Pada suatu sore di Bulan Oktober 2012, Pengajar
Muda (PM) sempatkan untuk berjalan-jalan ke pantai yang letaknya 300 meter ke
selatan dari desa Mukekuku, tempat dimana PM tinggal. Pantai di sini adalah
bagian dari hamparan Samudera Hindia berseberangan langsung dengan Benua
Australia. Di sepanjang pantai berdiri deretan pohon lontar yang tegak berdiri
laksana benteng alam, daunnya terus berayun ditiup hembusan angin laut yang
terus menerpa kencang.
Ketika PM berjalan melihat sekumpulan anak-anak
sedang asyik bermain, mereka adalah anak-anak didik di SD GMIT Oeulu (Sekolah
PM ditempatkan). Berjumlah delapan anak diantaranya siswa kelas 5, 4, dan 2,
terilihat akrab tanpa senioritas. Mereka sedang mengupas kelapa tua nan coklat
dengan menggunakan peralatannya hanya sebuah karang yang tajam dan gigi. PM
terkejut dengan teknik yang digunakan itu seperti jungle survival dengan mencari batuan tajam sebagai pisau seperti
zaman paleolitikum “meramu dan berburu”.
Merekapun memakan kelapa tua itu, PM bertanya; “mengapa kalian memakan kelapa itu?”
Anak-anak menjawab; “lapar pak!” jawab mereka serempak.
Mereka sebenarnya anak-anak yang
tangguh di medan alam raya, apalagi mereka punya keahlian yang jarang dimiliki
anak-anak atau orang dewasa di kota besar, yaitu memanjat pohon kelapa yang
menjulang tinggi hampir rata-rata pohon kelapa di sini lebih dari 5 meter
tingginya, bahkan ada yang mencapai 10 meter lebih. Berenangpun adalah keahlian
wajib anak-anak pesisir pantai ini, membuat api dari daun atau ranting pohon itu
perkara mudah dan mereka kuasai.
Itulah kelebihan psikomotorik
anak-anak ini miliki, umurnya masih di bawah 13 tahun, namun kemampuan jungle survival mungkin setara dengan
para adventuring jelajah rimbawana yang terorganisir dengan pelatihan yang
didapatkan. Sungguh polesan alam yang cantik dan luar biasa, sekolah alam
adalah salah satu pendidikan terbaik dalam membentuk pola pikir anak manusia
untuk, “bagaimana caranya bertahan hidup
di alam bebas?”. Pendidikan dengan prinsip tanpa paksaan dan keharusan
belajar, namun keluar dari naluri seorang manusia yang sadar akan kerasnya
bertahan hidup bahwa hidup itu tidaklah mudah.
Solidaritas anak-anak ini pun
terbentuk dengan sendirinya, dimana rasa saling berbagi meminum air kelapa tua
nan coklat dan berbagi daging kelapa tua. Nilai solidaritas yang natural keluar
dari diri anak-anak ini, sungguh pelatihan luar biasa, PM sendiripun
mendapatkan sikap solidaritas antar sesama korsp mahasiswa dulu membutuhkan
waktu 1 tahun lebih itupun diawali dengan doktrinasi senior di kampus dulu.
Anak-anak ini menikmati santap
sore kelapa tua itu dengan kebersamaan dan canda tawa, bergurau menggunakan
bahasa ibu mengalir alami tanpa beban. Benar suatu pemandangan indah
kebersamaan anak manusia yang dipupuk sejak dini. Banyak nilai pelajaran yang
dipetik dari tingkah polah anak-anak ini, jungle
survival, kebersamaan, dan solidaritas. Suatu pelajaran soft skill individu
yang pastinya sangat berguna untuk bekal melanjutkan kehidupan dewasa kelak
nantinya anak-anak ini.
Entah bagaimana harus
berkomentar, sebenarnya anak-anak ini dengan segala keterbatasan kondisi tempat
tinggal yang notabennya jauh dari kemajuan informasi dari dunia luar dan dapat
dikatakan jauh dari hiruk pikuk peradaban kota, namun anak-anak ini menikmati
semua hal itu. Dengan canda guraunya yang begitu lepas tanpa beban, begitu
polos menjalani hidup tanpa ada tuntutan akan masa depan mereka nanti mau jadi
apa. Nothing to lose, because life must go on and they are enjoy with this
situation.
“Pada
dasarnya manusia adalah makhluk otonom yang nasib nya tidak bisa dipaksakan,
dan masing-masing punya nasib sendiri untuk diperjuangkan”.
Senin,
19 November 2012