Kamis, 03 November 2011

Sujud Haru Tetesan Air Mata

Sholat isya malam ini penuh dengan emosional aku jalani, terasa haru aku menetaskan air mata akan betapa percayanya aku akan AdaNya Engaku Tuhan ku yang tak pernah tidur atau lelah mendengar doa dan pintaku. Ya Allah aku bersujud syukur pada-Mu, bahwa selama 2 tahun penantianku akan cita-cita dan impian ku Engaku wujudkan malam ini. Terima kasih Ya Allah atas Rahmat dan Nikmat yang telah Engaku berikan pada ku yang tak terhingga jumlahnya.

Maafkan aku yang terkadang melupakan dan tak mempercayai-Mu, aku sadar dan yakin bahwa Engkau ada dan tak kan pernah sedetikpun melupakan mahkluk-mahkluk ciptaan-Mu. Ya Allah maafkan aku yang terlalu congkak pada-Mu, Ya Allah aku tak kuasa meneteskan air mata akan betapa bahagia dan teramat malunya aku pada-Mu bahwa Engkau benar nyata.

Ya Allah aku percaya dan yakin bahwa Engkau lah yang mengatur semua lini kehidupan Alam Semesta dan isinya. Aku hanya lah mahkluk-Mu yang teramat kecil dan tak berati bagi-Mu, aku sadar hidup hanya sekali aku terbangun dan terbuka mata bahwa kehidupan ini hanya fana semu belaka dan akan musnah. Ya Allah aku mulai  terbangun dan tergugah bahwasannya hidup sekali harus berarti.

Ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan pada ku izin kan aku memilih jalan hidup mana yang harus dipilih atas seizin-Mu. Ya Allah tuntunlah aku untuk memilih jalan hidup sesuai dengan petunjuk-Mu, bawalah kaki ku ke jalan yang telah Engkau Ridhoi. Sirotolmustakim yang aku dambakan, lindungi dan jaga aku dari kerasnya dunia, jaga aku dari berbagai godaan dunia yang hanyalah fana nan semu.


amin.

Jogjakarta, 3 November 2011

















Bangga Menjadi Pengajar Muda "(kalau bukan kita, siapa lagi?)"

Saya sebagai lulusan sarjana pendidikan dan pernah ikut dalam program pendampingan SMK rintisan di daerah terpencil Kab. Lahat, Sumsel. Terpanggil untuk ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa, karena saya melihat, merasakan dan mendengarkan bagaimana kesenjangan pendidikan di Indonesia begitu jelas terlihat dan nyata.

Indonesia yang begitu besar dengan luas wilayahnya dari dan telah 66 tahun merdeka akan tetapi pemerataan pendidikan belum semua masyarakat menikmati secara layak. Sangat kontras perbedaan pendidikan di Jawa dengan pendidikan di luar Jawa. Saya sebagai warga negara Indonesia yang lahir dan besar di Indonesia telah menikmati segala fasilitas kehidupan lebih mudah karena saya tinggal di Jawa. Saya merasa malu pada negara tanah air pertiwi, selama saya hidup diberi kemudahan tapi belum pernah saya memberikan sesuatu yang berarti untuk Indonesia.

Hidup cuma sekali dan saya ingin dalam hidup saya dapat memberikan sesuatu yang berarti buat bangsa dan negara Indonesia, walaupun itu sangat kecil. Karena saya beruntung dapat mendapatkan gelar sarjana, sedangkan masih banyak masyarakat Indonesia lainnya yang bahkan mendapatkan pendidikan dasarpun terasa sulit buat mereka, karena keterbasan akses dan fasilitas yang kurang memadai.

Akan sangat tenang saya dapat melanjutkan hidup apabila saya pernah memberikan sesuatu yang berarti buat orang lain, anak-anak Indonesia bangsa tanah air saya. Akan sangat bangga dan berbahagia apabila saya dapat memberikan semangat dan motivasi anak-anak Indonesia di daerah yang jauh dari kemajuan kehidupan untuk berani bermimpi dan mengejar cita-cita mereka serta meyakinkan bahwa merekapun bisa menjadi orang yang punya pengaruh dan berarti buat bangsa dan negara.

Surat untuk Anak-anak muda Indonesia dari Bapak Anies Baswedan (pendiri Indonesia Mengajar) "bahwa setahun mengajar seumur hidup menginspirasi", jujur, hati saya bergetar dan terlecut setelah membaca surat yang penuh emosi dan gelora. Saya tersadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa karena hidup saya belum berarti, Dengan Indonesia Mengajar inilah timbul rasa kebanggaan dan percaya diri saya sebagai calon pengajar muda yang tidak lagi dipandang sebelah mata.

Dengan mengucap basmalah saya siap bergabung di garda terdepan Indonesia Mengajar dan akan sangat antusias sekali apabila saya dapat bergabung dan ditempatkan di wilayah Indonesia yang paling terpencil, terdepan, terluar dan tertinggal sekalipun. Saya yakin bisa menjadi inspirasi dan memberikan perubahan mind set berpikir anak-anak Indonesia di wilayah terpencil bahwa merekapun bisa bermimpi dan mengejar mimpinya. Karena saya percaya hidup berawal dari mimpi dengan perencanaan strategis yang jelas, cermat, tepat dan benar. Kita semua punya kesempatan dan kemampuan tinggal apakah kita punya kemauan itu saja.



Rabu, 02 November 2011

Sarjana Muda

Tak terasa, delapan tahun sudah aku menginjakan kaki di bumi Mataram ini, delapan tahun sebuah masa seorang anak kelas II SD.
Umur ku sekarang beranjak 24 tahun, usia yang seharusnya sudah matang menjadi seorang pria dewasa.
Aku sadar usia ku saat ini bukanlah usia yang muda lagi, namun terasa berat untuk aku menghadapi kenyataan hidup ini yang terus berputar dan melaju.

Saat ini aku telah memperoleh gelar pendidikan S-1 aku seorang Sarjana Pendidikan Teknik (S.Pd.T), suatu gelar yang prestisius bagi orang tua ku yang rela melepasku dari bumi kelahiranku Bumiayu delapan tahun silam. Kenyataan saat ini aku merasakan suatu beban begitu hebatnya  oleh gelar yang aku raih tersebut. Aku merasa seperti anak TK yang polos dan lugu, aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup seperti diam ditikam keadaan. Suatu masa transisi yang cenderung membuatku panik untuk bagaimana aku harus melawan keadaan ini, suatu keadaan yang jauh dari kemapanan seorang laki-laki dewasa. Sedih, pahit dan mungkin minder akan kehidupanku ini, kadang aku merasa dilecehkan dengan gelar yang aku raih itu (pelecehan intelektual). Aku bisa mendeskripsikan dan mengerti bagaimana pergolakan konflik batin yang begitu hebatnya dalam perasaanku ini.

Aku tahu dan sadar aku tidak mungkin selamanya dan terus menerus berada dalam kondisi ini. Aku harus melawan dan berusaha mengubah keadaan dan nasibku ini, aku tidak boleh lagi berdiri, ditikam, diam dan menonton kondisi ku ini. Aku harus mencari cahaya terang sebagi jalan menuju kemapanan hidup. Aku tidak peduli jalan cahaya terang itu curam, berliku atau tajam sekalipun, aku akan terus berusaha melewati semuanya. Aku tidak peduli orang berkata aku seorang ambisius yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya aku bisa mengubah nasibku saat ini menjadi baik dan lebih baik seiring berjalannya waktu...


Jogjakarta, 16 maret 2010
(Tepat Hari Raya Nyepi)




PROGRESIF REVOLUSIONER THE REAL ANTI KEMAPANAN


Dunia tidaklah kejam dan dunia tidalah bersahabat pula, dunia hanya angkuh dan masa bodoh itu saja. Tak bisa dipungkiri perjalanan hidup tiap anak manusia penuh dengan misteri yang sulit kita ungkap, diawal kita merencanakan atau singkat cerita “unpredictable”.

Ada sebuah ungkapan yang mungkin layak diangkat pada tulisan ini, yaitu; "jangan pernah diam ditikam keadaan, hanya ada satu kata yang pantas 'lawan, lawan dan lawan' ". Kita lebih baik hidup diasingkan dari pada mati dalam kemunafikan, that’s right bro !!

Ungkapan atau mungkin sebuah kalimat tak beraturan di atas mencerminkan bahwa, jangan pernah merasa tenang dan enjoy pada suatu tempat atau suatu keadaan. Karena hal itu dapat merusak saraf-saraf otak kita yang dapat mengakibatkan terjangkitnya sindrom malas untuk keluar dari keadaan yang membuat kita menjadi bodoh dan sempit wawasan alias kuper kali yah.  ckckckckckck

Intinya atau pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk tidak pernah merasa puas terhadap suatu keadaan. Pasti dan pasti kalau diprosentasikan rank 0% s/d 100%. 70% pada diri manusia akan mengeluh dalam bentuk apapun, yang pada intinya menceritakan apa yang dia alami dan rasakan dalam menjalani hidup dengan embel-embel keluh, walaupun keadaan yang dialami bahagia sekalipun.

Hanya ada sebuah solusi yang mungkin tidaklah baik tapi tidaklah pula buruk, dipertengahan antara limit baik dan  buruk tepatnya abu-abulah. Bahwa pendekatan hidup progresif revolusioner anti kemapanan jadikanlah sebuah solusi, ketika kita pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui perubahan hidup pasti terjadi

Tapi mungkin akan tidak relevan dengan sebuah paragraf dibawah ini:

"Pada suatu ketika dalam perjalanan hidup anak manusia akan tiba pada suatu titik dimana kita dihadapkan pada 2 mata pisau yang tajam yang siap menikam kita. 2 pilihan hidup yang runcing dengan bengisnya menuntut kita untuk memilih jalan hidup. 'Gadaikan idealismemu maka kau akan taklukan duania, atau lanjutkan idealismemu anti kemapananlah resikonya'. Itulah sebuah pilihan yang harus kita pilih ketika kita merasakan betapa kerasnya bertahan hidup."


Ditulis di Perawang Mill, Riau, Sumatra

Januari 2011