Suatu hari di sabtu siang, pelajaran IPS di kelas
3, SD Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) Oeulu, dimana materinya adalah
“Identitas Diri”. Indikator dari materi ini, siswa mampu menceritakan identitas
dirinya, meliputi; nama, tempat dan tanggal lahir, nama orang tua, pekerjaan
orang tua, status dalam keluarga, agama, cita-cita, hobi, dan alamat. Sekilas
materi ini tampak mudah untuk disampaikan kepada anak-anak kelas 3.
Suatu ketika ditengah pembelajaran berlangsung,
tiba-tiba seorang anak, Mefki namannya, dengan lugunya bertanya.
Secara polos, “Pak,
beta pung agama, apa?”, dengan suara lirihnya karena dia adalah salah satu
dari 13 anak kelas 3 yang cenderung minder dan kurang percaya diri untuk
berbicara di depan guru atau forum kelas.
maksudnya pertanyaan Mefki adalah (“pak, agama
saya apa?”).
Pengajar Muda (PM) terkejut dengan pertanyaan yang
dilontarkan si anak ini, dalam hati kiranya mereka anak kelas 3 ini sudah tahu
agamanya, karena faktanya di Desa 100% menganut agama kristen protestan.
Kemudian PM balik bertanya, “Nah, Mefki sonde tahu pung agama apa ko?”.
(Mefki tidak tahu agama Mefki apa?).
PM bertanya kepada seluruh anak-anak, “teman-teman lainnya, ada yang bisa kasih
tahu kalian pung agama apa?”
Serentak anak-anak menjawab, “Kristen Protestan, pak?”
Namun demikian, jawaban itu rasanya tidak cukup
untuk menjelaskan konsep agama pada anak-anak kelas 3 ini.
PM kembali melontarkan pertanyaan, “Mefki setiap minggu kamu pi ke Gereja sonde?”.
Mefki menjawab, “Pi, Pak.”
PM, “Terus
apa saja yang kamu lakukan ketika kamu di Gereja tiap hari minggu itu?”
Mefki, “Sembayang
dan berdoa pak.”
PM kembali bertanya pada Mefki, “Jadi Mefki su tahu apa itu agama atau sonde?”
Mefki dengan suara dan raut muka polosnya menjawab
ringan, “Sonde tahu pak,” (Tidak tahu
pak).
Dalam hati PM, “Alamak mati sudah aku, bagaimana caranya menjelaskan konsep agama untuk
anak kelas 3 ini yang notabennya memang secara umum pemikiran mereka belum
sejauh menelaah konsep agama. Secara umum konsep agama bagi anak-anak seumur
mereka adalah agama keturunan, mereka belum saatnya mencari jawaban dari
pertanyaan tentang konsep Tuhan dan agama. Padahal dalam kehidupanku sebelumnya
pernah berkonfrontasi dengan Tuhan, dan mencari jawaban dari pertanyaan “untuk
apa manusia itu hidup?, filsafat kehidupan yang belum terungkap”, untuk diri PM
sendiri. Tapi di sini, saat ini, di hadapan anak-anak yang polos harus
menjelaskan tentang konsep agama, karena ini adalah suatu kewajiban warga
negara untuk mengamalkan sila pertama PANCASILA, KeTuhanan Yang Maha Esa.
PM teringat film “Sang Pencerah”, disalah satu
adegannya Kiai Dahlan menjelaskan agama melalui media biola, dengan
memainkannya. Karena PM tidak bisa memainkan biola dan faktanya itu biola tidak
ada di sini, maka PM mensiasati dengan memutar musik instrumen Kitaro yang
berjudul “Koi”. Menggunakan laptop Acer fasilitas dari Indonesia Mengajar,
serta portable speaker.
PM meminta anak-anak untuk sejenak diam,
mensunyikan diri, dan menutup mata. PM memutar musik dibarengi dengan secara
monolog mensisipkan perkataan lirih dengan tujuan mendapatkan kekhidmatan,
membukakan hati anak-anak dengan mendengarkan alunan musik Kitaro.
Sepintas PM melihat kepolosan dan kejujuran
anak-anak ini, terlihat diraut wajah mereka ada keademan dan ketenangan, namun
begitu tidak berharap banyak dari hal itu akan anak-anak ini bisa paham dan
mengerti tentang konsep agama. Setelah musik selesai, PM meminta anak-anak
untuk membuka mata dan bertanya,
“apa yang
kalian rasakan setelah mendengarkan musik itu?”,
Beberapa anak menjawab, “enak pak, tenang pak, damai
pak,”.
PM, “nah
kalian merasakan damai dan tenang ko?, mendengarkan musik yang pak putar tadi”.
Anak-anak, “iya,
pak”.
PM, “nah
itulah agama, ketika kita punya agama jiwa kita, hati kita, pikiran kita merasa
tenang, sonde marah, sonde gelisah”.
Kemudian PM meminta anak-anak untuk memejamkan
mata lagi dan mendengarkan musik yang beraliran cadas dan underground, dengan
volume keras. Respon anak-anak ini mulai terlihat tidak nyaman dengan
ketawa-ketawa sendiri dan kelakuan hal aneh lainnya. Setelah itu PM mematikan
musik dan membuka diskusi untuk membicarakan peristiwa yang telah terjadi.
PM melontarkan pertanyaan, “apa yang kalian rasakan mendengar musik yang kedua ini?”.
Anak-anak menjawab, “Brisik pak, sonde enak”
PM, “itu
sudah kalau orang sonde punya agama, jiwanya sonde tenang, gelisah, dan berisik”.
Entahlah apakah treatment yang PM terapkan ini
berhasil atau tidak karena bagi mereka konsep agama masih abstrak, pemikiran
mereka belum cukup untuk memahami konsep agama. Mereka masih menganut agama
keturunan, namun demikian paling tidak mereka bisa membedakan antara ketenangan
dan kekacauan, karena secara individu mereka merasakan walau dalam konteks
pembelajaran.
Agama adalah
anugerah iman yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam hatinya, dan ada
saatnya mereka menerima anugerah itu.
Selasa, 20 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar