Selasa, 01 Januari 2013

Bangga Menjadi Pengajar Muda

Bung Karno mengajar, Bung Hatta mengajar, Bung Sjahrir mengajar, Ki Hajar Dewantara mengajar, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengajar, Kartini mengajar, Sanusi Pane mengajar, Jenderal A.H. Nasution mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin Republik ini pernah mengajar, mereka member inspirasi, mereka menjadi inspirasi, mengajar adalah memberi inspirasi. Menginspirasi adalah tugas utama seorang pemimpin. (Indonesia Mengajar).

Pesan diatas merupakan ajakan dari Indonesia Mengajar yang di motori Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) kepada para Sarjana muda berprestasi lulusan terbaik Perguruan Tinggi dalam atau luar negeri untuk bergabung menjadi pengajar muda di wilayah pelosok Indonesia. Para Sarjana muda ditantang untuk setahun mengabdi berupa mengajar anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan berinteraksi dengan masyarakat di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal di seluruh Indonesia untuk menularkan optimisme, menebar inspirasi dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan bangsanya.

Lebih dari enam dekade (66 tahun) Republik Indonesia (RI) merdeka dari belenggu Kolonialisme (Penjajahan), dan selama itulah Indonesia terus membangun infrastruktur Negara di segala lini dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh hingga tahun 2011, tercatat 6.5%. Namun fakta dilapangan dari sensus 2010, mengatakan lebih dari 1 dari 10 warga Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan adalah buta huruf, dan yang paling miris adalah lebih dari 1 dari 5 warga di Papua adalah buta huruf. Di Indonesia, negara yang penuh para ahli pendidikan, 7,09% adalah buta huruf. Belum lagi ditambah dengan jumlah sekolah rusak mencapai 11% dari 900 ribu atau sekitar 100 ribu. Serta tidak meratanya penempatan jumlah guru yang hanya terkonsentrasi di wilayah kota, dan segudang masalah pendidikan lainnya.

Sarjana muda sebagai kaum intelektual dan terdidik serta memiliki nasib lebih baik dari pada saudara kita lainnya yang tinggal di daerah pelosok negeri, mungkin untuk Sekolah Dasar pun terasa sulit, karena minimnya akses dan fasilitas yang kurang memadai di wilayahnya. Bagaimana kesenjangan pendidikan di Indonesia begitu jelas terlihat dan nyata. Negara besar dengan luas wilayahnya, namun pemerataan pendidikan belum semua masyarakat menikmati secara layak. Sangat kontras perbedaan pendidikan di Jawa dan di luar Jawa. Sarjana muda sebagai warga negara yang lahir dan besar di Indonesia telah menikmati segala fasilitas kehidupan dan nasib lebih baik, akan terasa malu pada negara tanah air pertiwi, apabila belum pernah memberikan sesuatu yang berarti untuk Indonesia.

Era saat ini menjadi seorang pangajar muda bukan lagi sebuah profesi yang dipandang sebelah mata, tetapi profesi prestisius dan membanggakan serta menjadi trend dan gaya hidup generasi muda. Perubahan paradigma orang bahwa pengajar muda bukan lagi profesi kelas dua, tetapi sebuah tuntutan karier untuk melangkah lebih besar dari sebuah profesi masa depan. Pengajar muda yang berani terima tantangan dan berjiwa petualang siap menjadi martil bangsa di garda terdepan, adalah kader-kader militan pewaris tongkat kekuasaan bangsa di masa akan datang. Calon pemimpin yang punya integritas dan loyalitas kepada bangsa dengan memenuhi panggilan ibu pertiwi untuk bergerak memberantas buta huruf serta menginspirasi anak-anak Indonesia yang tinggal di wilayah pelosok negeri. Pengajar muda datang untuk menjadi sosok inspiratif dan wujud nyata dari impian anak-anak “si bolang” untuk berani bermimpi dan yakin bisa mewujudkan.

Menjadi manusia adalah takdir, menjadi Sarjana adalah pilihan, menggerakan perubahan adalah keharusan bagi seorang yang telah menyandang gelar Sarjana. Dengan mengawali langkah besar untuk menjadi manusia yang sukses, adalah dengan melangkahkan kaki menuju ruang kelas untuk memberi inspirasi dan menginspirasi putra-putri bangsa ini. Agar mereka berani bermimpi bahwa merekapun yang tinggal di pelosok negeri bisa menjadi seorang Sarjana. 

Menjadi pengajar muda di daerah terpencil bukanlah pilihan hidup suram tapi awal dari kehidupan terang dan cerah menatap masa depan. Disitulah para calon pemimpin bangsa digodok di kawah candradimuka ditempa sense of sociality, leadership, public speaking dan soft skill yang paham dan peka terhadap kerasnya hidup rakyat kecil. Kelak, Indonesia akan dipenuhi pemimpin baru yang memiliki kompetensi kelas dunia dengan pemahaman akar rumput. 

Para pemimpin itu lahir dari anak-anak muda terbaik pada generasinya yang diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, bekerja, dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di segala penjuru, termasuk di daerah terpencil. Akan sangat indah dan tenang apabila seorang sarjana selama hidupnya pernah minimal sekali mengabdi untuk bangsa ini.

Setahun mengajar seumur hidup menginspirasi, pengajar muda adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda, ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. 

Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi. Pilih jalanmu jadilah pemimpin, awali langkah besarmu dengan belajar memimpin dan menginspirasi kelas kecilmu.

Mei 2012
Dipublikasikan di Majalah ProTech, Kolom Pro Edukasi LPMT Fenomena UNY 
Edisi V Th IX / 2012



Salam kebebasan berekspresi di Jagat maya


Puji Tuhan, apresiasi yang diberikan rekan-rekan di facebook atas hari lahir, saya ucapkan terima kasih. Bagi saya pribadi ini adalah bentuk pengakuan kedaulatan hidup dan pengakuan atas keberadaan saya beserta keabstrakan yang dimiliki. Bukan berarti gila akan pengakuan, namun pengakuan akan hidup itu penting. Bahwasannya kita menjelaskan hidup dan ada, bukan hidup tapi tidak ada.

Pengakuan dalam konteks yang lebih tinggi adalah kedaulatan negara, analogi kontenporer adalah perjuangan bangsa Palestina untuk memperjuangkan haknya sebagai sebuah negara yang berkedaulatan terus diperjuangkan. Saat ini Palestina memperjuangkan kenaikan status dari negara pengamat menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.  Hal itu penting agar eksistensi bangsa Palestina ada dan melegetimasikan negara dalam perjuangan pembebasan rakyat palestine. Itulah pentingnya sebuah pengakuan, di sini kita Indonesia yang berdasarkan UUD’45 sepakat untuk  “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”, save a palestine adalah jawabannya.

Pesan dan wall rekan semua menjadikan suntikan semangat akan pilihan melanjutkan hidup idealis yang adalah jalan pisau. Bukan berarti tidak realistis, namun jalan yang mungkin sebagian orang menganggap hidup ideal adalah aneh dan orang yang menjalankan itu adalah manusia anomali. Saya masih memiliki tanggung jawab yang harus dilunasi, tanggung jawab moral sebagai warga negara untuk ikut andil walau secuil, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Diberikan kesempatan untuk melihat dan merasakan langsung kondisi kekinian Republik ini di pelosok negeri dari berbagai aspek kehidupan adalah sebuah kehormatan. Seperti seorang Polisi yang diangkat menjadi penyidik KPK, memilih jalan samurai nan tajam, keras bagaikan baja, terjal dan berbatu menuju puncak Merapi adalah suatu kehormatan dan kebanggaan.

Saya di sini tanpa kabar dan tenang  bukan berarti tanpa tantangan, namun jauh lebih besar dari apa yang dipikirkan sebelumnya. Secara nyata melihat dan merasakan kenyataan akan kondisi Republik ini di ujung pelosok nan terluar. Bahwasannya roadmap Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) menjadi negara maju tahun 2045 tepat 100 tahun kemerdekaan RI, apakah akan terjadi?. Mungkin dilihat dari radikalisme kemajuan Jakarta sebagai barometer, tahun 2045 tidak ada alasan Indonesia menjadi negara berkembang saja. Namun kaca matanya adalah dari Sabang sampai Merauke, dari Maringas (kepulauan Taulad) sampai Pulau Rote, mungkin ceritanya akan lain. Tapi jangan lupa Bondan Prakoso bersyair dalam lirik, “hidup berawal dari mimpi” harapan akan selalu ada walau terlihat utopis.

Ini bukanlah keluhan, namun saya sampaikan kenyataan kondisi yang sebenarnya. Menurut keyakinan pribadi, “katakanlah yang sejujurnya walau itu pahit, jujurlah walau itu mengancam keselamatan diri”, karena kenyataan memang pahit. Bantuan materi berupa fisik atau uang mungkin bisa menjawab salah satu pertanyaan dari sebuah persoalan, namun bukan berarti itu menyelesaikan persoalan. Satu persoalan hidup adalah multi dimensional, meliputi; “IPOLEKSOSBUDHANKAM” dan mungkin terkait pendidikan serta karakter manusia. Saya tidak mengkritisi Pemerintah Republik ini, saya katakan dengan lantang Pemerintah Republik ini telah bekerja keras melaksanakan pembangunan, saya akui itu. Mungkin baru pertama kalinya dalam hidup, saya berfirasat baik terhadap pemerintah.

Di sini tempaan diri seperti di-kungkum di kawah Candradimuka untuk berdamai dengan diri sendiri, luar biasa tantangan yang dihadapi, berperan sebagai fasilitator dari katalis kemajuan berpikir, menjadikan public attention lokal, “think global local action”. Saya mulai sadar bahwa menjadi pemimpin itu tidaklah mudah walaupun tugasnya hanya mengambil keputusan. Namun jangan lupa bahwa tiap keputusan mengandung sebuah resiko, kita tidak mungkin menghilangkan resiko yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisir resiko yang ada. Dan tugas itu memanglah sulit seperti tokoh Kapten Jhon Miller dalam film Saving Private Ryan “konflik batin antara tugas dan naluri”.

Saya percaya bahwa Bangsa ini, Republik ini memiliki potensi memimpin dunia, seperti retorika yang disampaikan David Cameron, waktu berkunjung ke Jakarta, “Indonesia mampu memimpin dunia”. Kalau sedikit kita membuka buku-buku ensiklopedia bantuan pemerintah tahun 2007, waktu zaman  Menteri Pendidikan Bapak Bambang Sudibyo, yang puji Tuhan sampai juga di SD GMIT Oeulu, Rote Ndao. Alasannya kita punya sejarah peradaban yang tidak kalah dengan Mesopotamia peradaban sungai Eufrat dan Tigris yang mempersembahkan Codex Hammurabi atau taman gantung Babilonianya oleh si Nebukadnazer, Mesir dengan Firaun, Spinx, dan Piramidanya, Bangsa Inca dengan peninggalan Machu picchunya, Roman empire dengan Colesseumnya, Yunani melahirkan Aristoteles peletak dasar sistem kepemerintahan Monarki dan Demokrasi. Cina dengan Dinasti Kerajaannya menciptakan Great wall of china atau Forbidden citynya, dll. Kita?, Patih Gadjah Mada dengan palapa yang menjadikan nusantara, atau Samaratungga dari Wangsa Syailendera dengan Candi Borubudurnya atau Balaputeradewa menjadikan Palembang pusat agama Budha. Dan kita pernah memiliki pemimpin kharismatik dunia Ir. Soekarno yang menghajar dunia dengan gerakan non-bloknya. Era saat ini banyak tenaga ahli IPTEK kita dipekerjakan di luar negeri, bahkan banyak mutiara-mutiara terpendam pelosok negeri ini yang mempunyai masa depan yang luar biasa dengan potensi menggebrak dunia.

Tidak ada yang salah dengan bangsa ini, Founding Father kita berpesan, “Perjuangan kalian setelah aku akan lebih berat, dari pada perjuangan ku (Ir. Soekarno), perjuanganku adalah mengusir penjajah musuh yang nyata. Perjuangan kalian (kita saat ini) adalah melawan bangsa sendiri”. Melawan ketidakjujuran, ketidakpedulian, ketidaktahuan, kemalasan, kemunafikan, kesekeptisan, dll. yang memang musuh abstrak dalam kehidupan. Kita sadar salah satu janji kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memikirkan Bangsa dan Republik ini. Bukan berarti saya mengajak rekan-rekan untuk bergabung dalam wadah yang sama, namun marilah kita mulai mencintai tanah pertiwi ini, marilah kita bangga menjadi bangsa Indonesia, marilah kita jaga keutuhan NKRI harga mati. Berjuanglah di ladang bidang rekan masing-masing, jangan pernah menggadaikan atau menjual identitas, tanah pertiwi, dan merah putih. Semangat Jenderal Naga Bonar !!

26 tahun sudah.....
Air mata ini sanggup katakan semua, dari pada pesan yang disampaikan semua kata. Tuhan dalam kehidupan ku yang lalu, aku pernah lari dari-Mu, Tuhan disisa usiaku ini tolong jangan biarkan aku mengabaikan Mu lagi....

Salam progresif revolusioner

Oktober 2012

Sabtu, 15 Desember 2012

Alam Mengajari Bocah-Bocah Rote


Pada suatu sore di Bulan Oktober 2012, Pengajar Muda (PM) sempatkan untuk berjalan-jalan ke pantai yang letaknya 300 meter ke selatan dari desa Mukekuku, tempat dimana PM tinggal. Pantai di sini adalah bagian dari hamparan Samudera Hindia berseberangan langsung dengan Benua Australia. Di sepanjang pantai berdiri deretan pohon lontar yang tegak berdiri laksana benteng alam, daunnya terus berayun ditiup hembusan angin laut yang terus menerpa kencang.

Ketika PM berjalan melihat sekumpulan anak-anak sedang asyik bermain, mereka adalah anak-anak didik di SD GMIT Oeulu (Sekolah PM ditempatkan). Berjumlah delapan anak diantaranya siswa kelas 5, 4, dan 2, terilihat akrab tanpa senioritas. Mereka sedang mengupas kelapa tua nan coklat dengan menggunakan peralatannya hanya sebuah karang yang tajam dan gigi. PM terkejut dengan teknik yang digunakan itu seperti jungle survival dengan mencari batuan tajam sebagai pisau seperti zaman paleolitikum “meramu dan berburu”.

Merekapun memakan kelapa tua itu, PM bertanya; “mengapa kalian memakan kelapa itu?”
Anak-anak menjawab; “lapar pak!” jawab mereka serempak.
Mereka sebenarnya anak-anak yang tangguh di medan alam raya, apalagi mereka punya keahlian yang jarang dimiliki anak-anak atau orang dewasa di kota besar, yaitu memanjat pohon kelapa yang menjulang tinggi hampir rata-rata pohon kelapa di sini lebih dari 5 meter tingginya, bahkan ada yang mencapai 10 meter lebih. Berenangpun adalah keahlian wajib anak-anak pesisir pantai ini, membuat api dari daun atau ranting pohon itu perkara mudah dan mereka kuasai.

Itulah kelebihan psikomotorik anak-anak ini miliki, umurnya masih di bawah 13 tahun, namun kemampuan jungle survival mungkin setara dengan para adventuring jelajah rimbawana yang terorganisir dengan pelatihan yang didapatkan. Sungguh polesan alam yang cantik dan luar biasa, sekolah alam adalah salah satu pendidikan terbaik dalam membentuk pola pikir anak manusia untuk, “bagaimana caranya bertahan hidup di alam bebas?”. Pendidikan dengan prinsip tanpa paksaan dan keharusan belajar, namun keluar dari naluri seorang manusia yang sadar akan kerasnya bertahan hidup bahwa hidup itu tidaklah mudah.

Solidaritas anak-anak ini pun terbentuk dengan sendirinya, dimana rasa saling berbagi meminum air kelapa tua nan coklat dan berbagi daging kelapa tua. Nilai solidaritas yang natural keluar dari diri anak-anak ini, sungguh pelatihan luar biasa, PM sendiripun mendapatkan sikap solidaritas antar sesama korsp mahasiswa dulu membutuhkan waktu 1 tahun lebih itupun diawali dengan doktrinasi senior di kampus dulu.

Anak-anak ini menikmati santap sore kelapa tua itu dengan kebersamaan dan canda tawa, bergurau menggunakan bahasa ibu mengalir alami tanpa beban. Benar suatu pemandangan indah kebersamaan anak manusia yang dipupuk sejak dini. Banyak nilai pelajaran yang dipetik dari tingkah polah anak-anak ini, jungle survival, kebersamaan, dan solidaritas. Suatu pelajaran soft skill individu yang pastinya sangat berguna untuk bekal melanjutkan kehidupan dewasa kelak nantinya anak-anak ini.

Entah bagaimana harus berkomentar, sebenarnya anak-anak ini dengan segala keterbatasan kondisi tempat tinggal yang notabennya jauh dari kemajuan informasi dari dunia luar dan dapat dikatakan jauh dari hiruk pikuk peradaban kota, namun anak-anak ini menikmati semua hal itu. Dengan canda guraunya yang begitu lepas tanpa beban, begitu polos menjalani hidup tanpa ada tuntutan akan masa depan mereka nanti mau jadi apa. Nothing to lose, because life must go on and they are enjoy with this situation.

“Pada dasarnya manusia adalah makhluk otonom yang nasib nya tidak bisa dipaksakan, dan masing-masing punya nasib sendiri untuk diperjuangkan”. 

Senin, 19 November 2012

Pak, Beta Pung Agama Apa?



Suatu hari di sabtu siang, pelajaran IPS di kelas 3, SD Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) Oeulu, dimana materinya adalah “Identitas Diri”. Indikator dari materi ini, siswa mampu menceritakan identitas dirinya, meliputi; nama, tempat dan tanggal lahir, nama orang tua, pekerjaan orang tua, status dalam keluarga, agama, cita-cita, hobi, dan alamat. Sekilas materi ini tampak mudah untuk disampaikan kepada anak-anak kelas 3.

Suatu ketika ditengah pembelajaran berlangsung, tiba-tiba seorang anak, Mefki namannya, dengan lugunya bertanya.

Secara polos, “Pak, beta pung agama, apa?”, dengan suara lirihnya karena dia adalah salah satu dari 13 anak kelas 3 yang cenderung minder dan kurang percaya diri untuk berbicara di depan guru atau forum kelas.

maksudnya pertanyaan Mefki adalah (“pak, agama saya apa?”).

Pengajar Muda (PM) terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan si anak ini, dalam hati kiranya mereka anak kelas 3 ini sudah tahu agamanya, karena faktanya di Desa 100% menganut agama kristen protestan.

Kemudian PM balik bertanya, “Nah, Mefki sonde tahu pung agama apa ko?”.

(Mefki tidak tahu agama Mefki apa?).

PM bertanya kepada seluruh anak-anak, “teman-teman lainnya, ada yang bisa kasih tahu kalian pung agama apa?

Serentak anak-anak menjawab, “Kristen Protestan, pak?

Namun demikian, jawaban itu rasanya tidak cukup untuk menjelaskan konsep agama pada anak-anak kelas 3 ini.

PM kembali melontarkan pertanyaan, “Mefki setiap minggu kamu pi ke Gereja sonde?”.

Mefki menjawab, “Pi, Pak.

PM, “Terus apa saja yang kamu lakukan ketika kamu di Gereja tiap hari minggu itu?

Mefki, “Sembayang dan berdoa pak.

PM kembali bertanya pada Mefki, “Jadi Mefki su tahu apa itu agama atau sonde?

Mefki dengan suara dan raut muka polosnya menjawab ringan, “Sonde tahu pak,” (Tidak tahu pak).

Dalam hati PM, “Alamak mati sudah aku, bagaimana caranya menjelaskan konsep agama untuk anak kelas 3 ini yang notabennya memang secara umum pemikiran mereka belum sejauh menelaah konsep agama. Secara umum konsep agama bagi anak-anak seumur mereka adalah agama keturunan, mereka belum saatnya mencari jawaban dari pertanyaan tentang konsep Tuhan dan agama. Padahal dalam kehidupanku sebelumnya pernah berkonfrontasi dengan Tuhan, dan mencari jawaban dari pertanyaan “untuk apa manusia itu hidup?, filsafat kehidupan yang belum terungkap”, untuk diri PM sendiri. Tapi di sini, saat ini, di hadapan anak-anak yang polos harus menjelaskan tentang konsep agama, karena ini adalah suatu kewajiban warga negara untuk mengamalkan sila pertama PANCASILA, KeTuhanan Yang Maha Esa.

PM teringat film “Sang Pencerah”, disalah satu adegannya Kiai Dahlan menjelaskan agama melalui media biola, dengan memainkannya. Karena PM tidak bisa memainkan biola dan faktanya itu biola tidak ada di sini, maka PM mensiasati dengan memutar musik instrumen Kitaro yang berjudul “Koi”. Menggunakan laptop Acer fasilitas dari Indonesia Mengajar, serta portable speaker.


PM meminta anak-anak untuk sejenak diam, mensunyikan diri, dan menutup mata. PM memutar musik dibarengi dengan secara monolog mensisipkan perkataan lirih dengan tujuan mendapatkan kekhidmatan, membukakan hati anak-anak dengan mendengarkan alunan musik Kitaro.


Sepintas PM melihat kepolosan dan kejujuran anak-anak ini, terlihat diraut wajah mereka ada keademan dan ketenangan, namun begitu tidak berharap banyak dari hal itu akan anak-anak ini bisa paham dan mengerti tentang konsep agama. Setelah musik selesai, PM meminta anak-anak untuk membuka mata dan bertanya,

apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan musik itu?”,

Beberapa anak menjawab, “enak pak, tenang pak, damai pak,”.

PM, “nah kalian merasakan damai dan tenang ko?, mendengarkan musik yang pak putar tadi”.

Anak-anak, “iya, pak”.

PM, “nah itulah agama, ketika kita punya agama jiwa kita, hati kita, pikiran kita merasa tenang, sonde marah, sonde gelisah”.


Kemudian PM meminta anak-anak untuk memejamkan mata lagi dan mendengarkan musik yang beraliran cadas dan underground, dengan volume keras. Respon anak-anak ini mulai terlihat tidak nyaman dengan ketawa-ketawa sendiri dan kelakuan hal aneh lainnya. Setelah itu PM mematikan musik dan membuka diskusi untuk membicarakan peristiwa yang telah terjadi.


PM melontarkan pertanyaan, “apa yang kalian rasakan mendengar musik yang kedua ini?”.

Anak-anak menjawab, “Brisik pak, sonde enak

PM, “itu sudah kalau orang sonde punya agama, jiwanya sonde tenang, gelisah, dan berisik”.

Entahlah apakah treatment yang PM terapkan ini berhasil atau tidak karena bagi mereka konsep agama masih abstrak, pemikiran mereka belum cukup untuk memahami konsep agama. Mereka masih menganut agama keturunan, namun demikian paling tidak mereka bisa membedakan antara ketenangan dan kekacauan, karena secara individu mereka merasakan walau dalam konteks pembelajaran.

Agama adalah anugerah iman yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam hatinya, dan ada saatnya mereka menerima anugerah itu.


Selasa, 20 November 2012

Rabu, 22 Agustus 2012

Bumi Ti’ilangga Pagar Selatan Nusantara



Tepat 29 hari penulis (Pengajar Muda/PM) berada di Desa penempatan serasa waktu berjalan cepat mungkin karena padatnya aktivitas yang harus dijalani. Penulis lupa belum membuat coretan-coretan yang notabennya penting untuk di dokumentasikan sebagai salah satu bagian sejarah perjalanan hidup. Baiklah nampaknya harus ditulis tentang ke-29 hari di Bumi Ti’ilangga Rote Ndao, tulisan pertama ini akan mengangkat tema tentang satu pulau paling selatan Indonesia (Nusantara) sebagai pagar perbatasan ditinjau dari berbagai prespektif (SUBJEKTIF).

Sebelum  dimulai mencorat-coret, sidikit bocoran gaya bahasa yang digunakan agak menyampah biar terkesan enak dan tidak bosan dibaca,
“kata orang Jakarta => suka-suka GUA / tulisan-tulisan Guee lu mau apa??”.
Disini penulis menekankan bahwa tulisan ini adalah murni SUBJEKTIF AKU. So, semua itu relatif. Harapannya pembaca memakluminya, bukan mencari sensasi tapi penulis lebih suka sesuatu yang abstrak, di luar nalar, think out of the box, lepas dari pakem, keluar rel, dan terancam punah.

Teringat kata-kata Pak HH (Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar) dulu waktu training,
Seorang pemimpin adalah punya kapasitas dan mampu menjaga keotentikannya”.
Kira-kira seperti itu, penulis sendiri lupa harap maklum lama dan jauh dari center of information.
Oya lupa kalau nanti antara judul dan isi tidak nyambung alias jauh dari relevansi yah...harap maklum yah broooooo, Let’s play a game bro...

Oya sekedar informasi di mukadimah, penulis ditempatkan di Bumi Ti’ilangga, Desa Mukekuku, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, NTT. PM tinggal di Dusun Oeulu (Oe itu adalah air, dan Ulu itu Hulu) salah satu dari sembilan dusun di desa ini, dan mendapat tugas di SD GMIT (Gereja Masehi Injil di Timor) Oeulu, sekolah swasta di bawah Yayasan GMIT.

Rute menuju ke sini dari Kupang dapat naik Kapal cepat selama 2 jam turun di Ba’a (Kota Kabupaten) dan naik ojek sejauh ± 60 km, atau naik Ferry lambat (ASDP) selama 4 jam turun di Pelabuhan Pantai Baru, kemudian naik ojek ± 25 km. Saat ini PM adalah angkatan ke-IV, dimana disini sebagai tahun ke-2 menggantikan Pengajar Muda angkatan ke-II, yaitu rekan Khaerul Umur yang telah selesai melaksanakan tugasnya selama satu tahun penempatan terhitung tanggal 30 Juni 2012, dan beliau sudah kembali ke kehidupannya untuk kembali melanjutkan hidup dan mengejar mimpinya yang lain.

Rote Ndao dilihat dari ;

Geografis
Pulau paling selatan Indonesia terletak dikoordinat 1230 - 1230 BT dan 100 - 110 LS, menyebrang sedikit,  
jare wong jowo sak plintengan buto
ke tenggara sampai kita di negara tetangga “Darwin” Australia, namun terhampar samudra Hindia. Rote Ndao terdiri dari pulau Rote (terbesar) dan gugusan Pulau Ndao di sebalah barat daya pulau Rote. Secara umum Rote Ndao adalah kawasan pesisir dengan  dikeliling samudra Hindia dan identik cuaca harian yang kering panas dan berdebu.
Kawasan perbukitan perkiraan ketinggian kurang dari 1000 meter,
bisa dilihat warna dataran tinggi Rote Ndao di peta”.

Struktur tanah berupa batuan karst atau kapur yang identik dengan sumber air langka dibeberapa tiitk. Dengan kondisi alam yang relatif cukup panas ada sedikit aneh dengan mata pencaharian penduduk adalah pertanian dengan komoditinya adalah padi (sawah tadah hujan 1x panen setahun), namun cukup luas lahan persawahan, palawija, bawang, sawi, kelapa, dan gulai air dari pohon lontar. Sebagian warga juga bekerja sebagai nelayan di wilayah pantai walau tidak di semua pantai.

Keindahan alam Rote Ndao sangat kompetitif untuk bersaing dengan labuan bajo, raja ampat, bunaken, atau bangka belitung, Pantai Rote masih lebih eksotis dibandingkan pantai Kuta di Bali,
penulis lihat di TV kondisi pantai Kuta”.
Dengan hamparan samudra membiru ombak yang menakjubkan untuk surfing, dan pantai yang ramah untuk snorkling. Dengan hamparan sabana luas membungkus eksotisme alam Rote Ndao, dan disini seperti jurasic park, sapi, kambing, babi berkeliaran bebas tanpa kandangnya.
“wow....this a really amazing place, I think it’s not far from heaven hahahahaha (lebay)”.

Infrastruktur jalan dari Ba’a kota kabupaten hingga Rote Timur secara umum 80% baik aspal hotmix walau ada yang cacat wajarlah. Jaringan intalasi listrik sudah ada dengan penghasil listrik menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), namun terkadang siang hari padam, hanya terkendala sinyal seluler tidak ada, dapat dikatakan begitu walau ada spot-spot tertentu dapat mendapatkan sinyal telkomsel saja, yaitu dipinggir pantai dan hanya 1 spot saja. Terbaru adalah pembangun infrastruktur jalan raya di desa sejauh 1 km dengan angggran 2 milyar lebih dan mengkagetkan adalah kontraktornya Waskita.
Hahahaha sampai juga ini BUMN disini”.

Sosiologis
Orang Rote merupakan suku rote yang terdiri dari berbagai macam NUSAK, (sejenis kerjaan kiranya), orang rote secara gesture memiliki kulit sawo matang coklat kehitaman sensual. Dari sudut pandang karakter keras but open mind, toleran dan berjiwa pancasila, dimana nasionalisme teraplikasi dengan baik, sangat smiling dimana welcome terhadap pendatang apalagi seorang Pengajar Muda, mereka begitu interest dan antusiasme terhadap pembaharuan akan kemajuan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan perlahan tapi pasti menuju trend positif.

Secara umum masyarakat Rote Timur memiliki karakter sama yaitu, keras dan penuh ambisi serta terbiasa dengan kompetisi. Namun nilai gotong royong masih kental dan sangat terasa dimana ada kebiasaan untuk membantu sesama anggota keluarga dari fam’s yang sama, biasa disebut dengan Tu’u,
suatu perkumpulan keluarga dimana ketika ada satu keluarga yang akan mengadakan pesta khususnya pernikahan semua keluarga diwajibkan untuk membantu (menyumbang) apa yang bisa disumbangkan, dan biasanya ada batasan wajar yang harus dikasih entah itu ternak (babi, sapi, atau kambing) bisa juga berupa uang tunai atau barang berharga lainnya”.
Dan biasanya secara tidak tersirat keluarga yang menyubang akan dicatat dan dibukukan dimana ketika si penyumbang ini, kelak akan melaksanakan pesta yang sama si yang disumbang punya kewajiban untuk membalas dengan nilai yang sama.
“(jikalau penjelasan ini ada yang keliru mohon dikoreksi: pembaca)”.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa rote khas, contoh;
sonde itu tidak, sudah = disingkat su, pergi jadi *pe kemana ko?* ”,
dan lebih ekstrim bagi telinga orang Jawa ketika anak siswa panggil penulis,
Pak ucky BAJINGAN”,
ketika aku bermain pingpong, melatih sepakbola, dan volley, spontan aku kaget,
what the hell this boy!!”.
Ternyata Bajingan dalam arti Rote adalah keren,
hahaha mungkin karena si bajingan adalah sosok yang cool, like’s a man, gentelah jadi prespektif mereka keren”.

Kehidupan
Kehidupan masyarakat khususnya Rote timur secara umum sama seperti kehidupan di desa lainnya di Jawa, dimana mata pencaharian penduduk sebagaian besar adalah petani, ada sebagian kecil nelayan dan sisanya profesi lainya. Pertanian disini cukup beragam, dimana komonditi utamanya adalah tuak (gula air) dari pohon lontar dan kelapa, selain itu ada juga bawang merah, sayur sawi, kangkung, tomat, dan padi (tadah hujan).

Desa Mukekuku adalah wilayah pantai/pesisir dimana kondisi panas kering di siang hari tapi malam hari cukup dingin karena adanya angin laut yang bertiup kencang. Selain aktivitas itu masyarakt Rote sangat senang apabila dikunjungi apalagi oleh pendatang yang notabennya Pengajar Muda sebagai orang yang datang untuk pendidikan, mereka akan sebisa mungkin menjamu tamu dengan sebaik-baiknya. Dapat dikatakan sesuatu yang tidak ada mereka adakan hanya untuk menjamu tamu tersebut. Kemudian apabila disuruh makan maka si tamu seyogyanya makan, agar si empunya rumah merasa dihargai apa yang disajikan, dan lebih terpenting adalah pasti di suruh menambah lagi porsi makanya. Info porsi orang Rote dapat dikatakan 2x porsi makan orang Jawa khususnya penulis, yah mungkin wajar karena aktivitas mereka cukup keras dan berat dengan bertani, memanggul kayu bakar, naik turun pohon lontar dan kelapa yang tingginya lebih dari 8 meter.

Conclusionnya masyarkat Rote sangat welcome to new comer’s dan akan melayani dengan kelas terbaik, bahkan apabila si tamu Pengajar Muda khususnya mau tinggal, maka si empunya akan dengan rela memberikan rumah atau kamar terbaiknya walau mereka tinggal di rumah atau kamar yang jelek.

Orang-orang Rote gemar mengunyah buah sirih dicampur dengan kapur dengan tujuan menjaga kualitas gigi dan seabagai kebiasaan sehari-hari.

Agama dan Budaya
Agama masyarakat Rote hampir 90% lebih adalah Kristen Protestan ada sebagian kecil Khatolik, aliran Advent, dan lainnya. Desa penempatan Pengajar Muda 99,99% Kristen Protestan kecuali penulis Lucky Irawan (Pengajar Muda) muslim. Namun toleransi beragama sangat baik hal itu dibuktikan setiap ada undangan pesta yang mengharuskan penulis datang maka paginya Pengajar Muda di minta menyembelih hewan kecuali babi, dan penulis telah menyembelih 1 ekor sapi, 2 ekor kambing, dan 20 ekor ayam the next generation Penjagal Muda.

Selain itu ketika Pengajar Muda akan melaksanakan ibadah sholat wajib dan jum’at mereka akan dengan senang hati mengizinkan. Informasi di Rote timur ada satu perkampungan muslim, letaknya di Papela kota kecamatan dan ada 3 masjid jaraknya sekitar ± 16 km dari Desa Mukekuku. Kebanyakan muslim adalah pendatang dari Bugis, Jawa, dan lainya.

Budaya masyarakat Rote selain Tu’u yang sudah dijelaskan di atas, yaitu pesta pora, baik itu pernikahan, kelahiran, bahkan kematianpun  dipestakan. Hal ini yang sungguh mengkagetkan dimana pesta pernikahan biasa berlangsung 2 hari 2 malam non-stop dengan tarian Ja’i (khas Rote) menggunakan ti’ilangga (topi Rote terbuat dari daun lontar seperti topi koboi dengan tanduk menjulang keatas didepan) dan selendang rote mereka menari dengan musik Ja’i kalo di Jawa mungkin Gending tapi dengan ritme Bit yang tinggi. Dan kebiasaan lainya adalah minum Sofi (minum keras fragmentasi tuak) rasanya begitu keras dimana kadar alkholnya mungkin lebih dari 40%. Orang Rote gemar minum sofi ramai-ramai,
mungkin sa sloki muter, angkat sekali lagi gelasmu kawan”.

Alat musik tradisional khas Rote dan biasa menjadi cinderamata SASANDO, seperti kecapi terbuat dari lontar untuk cassingnya.

Dana pesta yang begitu besar membuat Bupati Rote sekarang bapak Leonard Haning mencetuskan program Revitalisasi budaya, dimana mengalihkan Tu’u untuk pendidikan, maksudnya budaya Tu’u untuk pesta tetap ada, namun nilai sumbangannya dikurangi, misal biasanya memotong 20 ekor kambing atau babi di kurang jadi 10 ekor saja. Dan selain itu mengintruksikan warga untuk membudayakan Tu’u untuk keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka. Sejauh ini sekitar 3 tahun lebih berjalan cukup signifikan, karena masyarakat Rote cenderung mengikuti perintah pemimpin.

Pendidikan
Actually this topic apabila dibicarakan sangat panjang dimana banyak sekali temuan-temuan selama Pengajar Muda berada disini yang membuat suprise, tapi akan ditulis di kesempatan lainya saja karena butuh topic tersendiri. Intinya deskripsi umum, di kecamatan Rote timur terdapat 21 sekolah dasar, 4 SMP, dan 1 SMA.

Mungkin saat ini dari segi kuantitas cukup representatif walau belum ideal, untuk level elementary school mungkin mencukupi, tapi masuk ke junior high school permasalahan timbul karena lokasi geografis antar kampung yang berjauhan diperparah dengan tidak adanya angkutan umum. Banyak anak-anak sekolah yang harus berjalan lebih dari 10 km untuk ke sekolah. Level senior high school hanya ada 1 dan terletak di kota kecamatan biasa dibayangkan desa yang jauh dari lokasi itu tempat PM saja 16 km tidak ada angkutan umum, hanya ada motor dan tidak semua penduduk punya motor,
bensin rata-rata dijual Rp. 7.000 – 8.000,-“.

SD GMIT Oeulu tempat dimana PM ditugaskan termasuk sekolah swasta, namun sekarang manajerial dibawah Cabang Dinas Rote Timur. Termasuk SD terpencil, tertinggal, dan terluar, namun dari segi fasilitas first class dapat dikatakan begitu, karena cukup banyak mendapatkan bantuan fisik. Memiliki 3 gedung dengan jumlah ruang 6 kelas, 1 perpustakaan baru, 3 toilet, dan 1 kantor guru. Memiliki banyak sekali buku-buku bagus-bagus paket pelajaran, variasi ensiklopedia, buku agama, 6 buah gitar baru, 2 buah meja tennis baru dan perlengkapannya, tool kit IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Tata surya, 2 buah paket seperangkat tool kit sport, bola volly, sepak, badminton nett, 3 buah komputer desktop, 2 buah laptop think pad L430, 3 buah timbangan berat badan, dan masih banyak lainya. Namun permasalahannya adalah aset tersebut belum terinventarisasi dan tidak digunakan sama sekali. Jumlah guru kelas 5 + 1 Pengajar Muda, Kepala Sekolah 1, Tata Usaha 1 orang merangkap guru agama, dan tidak ada guru mata pelajaran lainnya.

Pemetaan awal adalah kurangnya motivasi guru dan stakeholder dalam memajukan pendidikan di wilayahnya. Untuk guru dibuktikan dengan kehadiran yang memprihatinkan rata-rata jam 8.00 baru datang, dan jam 11.00 pulang kadang tidak masuk. Walau seharusnya Kegiatan Belajar Mengajar dimulai jam 7.00-12.10 WITA.

Kebinggungan guru dalam memberikan materi mungkin mereka tidak membaca silabus dan SK-KD hingga mereka kadang tidak tahu apa yang harus diajar. Pendidikan yang keras dimana kekerasan verbal adalah hal yang wajar sebagai pendidikan berkarakter Rote,
maksudnya kata-kata kebun bintang hal yang lumrah”.

Metode pengajaran yang monoton dan konvensional tanpa RPP dsb. Pengawasan stakeholder Cab. Dinas yang tidak rutin dan maksimal. Pointnya adalah kebijakan secara fisik dan fasilitas baik untuk wilayah terpencil seperti ini, namun pemberdayaan stakeholder sangat minim, sehingga kurangnya upgrade pengetahuan dan wawasan baru, melek komputerpun hanya sebatas word dan excel sudah alhamdulilah sekali.
 
Kesehatan
Ditinjau dari kesehatan masyarakat secara umum banyak terkena penyakit kulit, hal ini wajar karena kondisi lingkungan yang berdebu dan kering, namun diperparah kurangnya kesadaran masyarakat khususnya anak-anak untuk mencuci kaki, tangan, bahkan mandipun tidak 2 kali sehari. Sanitasi yang jelek dimana membuang sampah sembarangan, membuang limbah rumah tangga selain MCK sembarangan. Walau untuk MCK sudah banyak yang memiliki septank.

Selain itu endemi malaria juga menghantui walau jarang tapi potensi penyakit ini cukup besar melanda masyarakat. Sebenarnya program Pamsimas, PNPM dan lainya cukup deras mengalir di wilayah sini namun sebagian besar adalah pembanguna fisik, dan lagi-lagi masalah klasik yang sama dengan dunia pendidikan.

Secarik tinta penutup segudang masalah akan terselesaikan apabila dihadapi dan hal itu butuh proses, dan proses itu butuh waktu. Perubahan entitas prilaku mungkin sangat sulit terjadi karena harus mengubah kebiasaan yang sudah tertanam. Namun kata mungkin berarti masih ada harapan untuk bisa berubah, dari pada menunggu badai reda lebih baik menikmati hujan badai ini dengan tarian inspiratif. Sehitam apapun masalalu, masa depan kita, Rote Ndao dan Indonesia masih suci.

Lucky Irawan
Pengajar Muda angkatan IV
Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar
SD GMIT Oeulu, Rote Timur, Rote Ndao, NTT

Dipublikasikan, di Kupang, Rabu, 22 Agustus 2012