Tepat 29
hari penulis (Pengajar Muda/PM) berada di Desa penempatan serasa waktu berjalan
cepat mungkin karena padatnya aktivitas yang harus dijalani. Penulis lupa belum
membuat coretan-coretan yang notabennya penting untuk di dokumentasikan sebagai
salah satu bagian sejarah perjalanan hidup. Baiklah nampaknya harus ditulis
tentang ke-29 hari di Bumi Ti’ilangga Rote Ndao, tulisan pertama ini akan mengangkat
tema tentang satu pulau paling selatan Indonesia (Nusantara) sebagai pagar perbatasan
ditinjau dari berbagai prespektif (SUBJEKTIF).
Sebelum dimulai mencorat-coret, sidikit bocoran gaya
bahasa yang digunakan agak menyampah biar terkesan enak dan tidak bosan dibaca,
“kata orang Jakarta =>
suka-suka GUA / tulisan-tulisan Guee lu mau apa??”.
Disini
penulis menekankan bahwa tulisan ini adalah murni SUBJEKTIF AKU. So, semua itu relatif. Harapannya pembaca memakluminya,
bukan mencari sensasi tapi penulis lebih suka sesuatu yang abstrak, di luar
nalar, think out of the box, lepas dari pakem, keluar rel, dan terancam punah.
Teringat
kata-kata Pak HH (Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar) dulu waktu training,
“Seorang pemimpin adalah punya kapasitas dan
mampu menjaga keotentikannya”.
Kira-kira
seperti itu, penulis sendiri lupa harap maklum lama dan jauh dari center of
information.
Oya lupa
kalau nanti antara judul dan isi tidak nyambung alias jauh dari relevansi
yah...harap maklum yah broooooo, Let’s play a game bro...
Oya
sekedar informasi di mukadimah, penulis ditempatkan di Bumi Ti’ilangga, Desa
Mukekuku, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, NTT. PM tinggal di Dusun
Oeulu (Oe itu adalah air, dan Ulu itu Hulu) salah satu dari sembilan dusun di
desa ini, dan mendapat tugas di SD GMIT (Gereja Masehi Injil di Timor) Oeulu,
sekolah swasta di bawah Yayasan GMIT.
Rute
menuju ke sini dari Kupang dapat naik Kapal cepat selama 2 jam turun di Ba’a
(Kota Kabupaten) dan naik ojek sejauh ± 60 km, atau naik Ferry lambat (ASDP)
selama 4 jam turun di Pelabuhan Pantai Baru, kemudian naik ojek ± 25 km. Saat
ini PM adalah angkatan ke-IV, dimana disini sebagai tahun ke-2 menggantikan
Pengajar Muda angkatan ke-II, yaitu rekan Khaerul Umur yang telah selesai
melaksanakan tugasnya selama satu tahun penempatan terhitung tanggal 30 Juni
2012, dan beliau sudah kembali ke kehidupannya untuk kembali melanjutkan hidup
dan mengejar mimpinya yang lain.
Rote Ndao
dilihat dari ;
Geografis
Pulau
paling selatan Indonesia terletak dikoordinat 1230 - 1230
BT dan 100 - 110 LS, menyebrang sedikit,
“jare wong jowo sak plintengan buto”
ke
tenggara sampai kita di negara tetangga “Darwin” Australia, namun terhampar
samudra Hindia. Rote Ndao terdiri dari pulau Rote (terbesar) dan gugusan Pulau
Ndao di sebalah barat daya pulau Rote. Secara umum Rote Ndao adalah kawasan
pesisir dengan dikeliling samudra Hindia
dan identik cuaca harian yang kering panas dan berdebu.
Kawasan
perbukitan perkiraan ketinggian kurang dari 1000 meter,
“bisa dilihat warna dataran tinggi Rote Ndao
di peta”.
Struktur
tanah berupa batuan karst atau kapur yang identik dengan sumber air langka
dibeberapa tiitk. Dengan kondisi alam yang relatif cukup panas ada sedikit aneh
dengan mata pencaharian penduduk adalah pertanian dengan komoditinya adalah
padi (sawah tadah hujan 1x panen setahun), namun cukup luas lahan persawahan, palawija,
bawang, sawi, kelapa, dan gulai air dari pohon lontar. Sebagian warga juga
bekerja sebagai nelayan di wilayah pantai walau tidak di semua pantai.
Keindahan
alam Rote Ndao sangat kompetitif untuk bersaing dengan labuan bajo, raja ampat,
bunaken, atau bangka belitung, Pantai Rote masih lebih eksotis dibandingkan
pantai Kuta di Bali,
“penulis lihat di TV kondisi pantai Kuta”.
Dengan
hamparan samudra membiru ombak yang menakjubkan untuk surfing, dan pantai yang
ramah untuk snorkling. Dengan hamparan sabana luas membungkus eksotisme alam
Rote Ndao, dan disini seperti jurasic park, sapi, kambing, babi berkeliaran
bebas tanpa kandangnya.
“wow....this a really amazing place, I think it’s
not far from heaven hahahahaha (lebay)”.
Infrastruktur
jalan dari Ba’a kota kabupaten hingga Rote Timur secara umum 80% baik aspal
hotmix walau ada yang cacat wajarlah. Jaringan intalasi listrik sudah ada
dengan penghasil listrik menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD),
namun terkadang siang hari padam, hanya terkendala sinyal seluler tidak ada,
dapat dikatakan begitu walau ada spot-spot tertentu dapat mendapatkan sinyal
telkomsel saja, yaitu dipinggir pantai dan hanya 1 spot saja. Terbaru adalah
pembangun infrastruktur jalan raya di desa sejauh 1 km dengan angggran 2 milyar
lebih dan mengkagetkan adalah kontraktornya Waskita.
“Hahahaha sampai juga ini BUMN disini”.
Sosiologis
Orang
Rote merupakan suku rote yang terdiri dari berbagai macam NUSAK, (sejenis
kerjaan kiranya), orang rote secara gesture memiliki kulit sawo matang coklat
kehitaman sensual. Dari sudut pandang karakter keras but open mind, toleran dan
berjiwa pancasila, dimana nasionalisme teraplikasi dengan baik, sangat smiling
dimana welcome terhadap pendatang apalagi seorang Pengajar Muda, mereka begitu
interest dan antusiasme terhadap pembaharuan akan kemajuan. Kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan perlahan tapi pasti menuju trend positif.
Secara
umum masyarakat Rote Timur memiliki karakter sama yaitu, keras dan penuh ambisi
serta terbiasa dengan kompetisi. Namun nilai gotong royong masih kental dan
sangat terasa dimana ada kebiasaan untuk membantu sesama anggota keluarga dari
fam’s yang sama, biasa disebut dengan Tu’u,
“suatu perkumpulan keluarga dimana ketika ada
satu keluarga yang akan mengadakan pesta khususnya pernikahan semua keluarga
diwajibkan untuk membantu (menyumbang) apa yang bisa disumbangkan, dan biasanya
ada batasan wajar yang harus dikasih entah itu ternak (babi, sapi, atau
kambing) bisa juga berupa uang tunai atau barang berharga lainnya”.
Dan
biasanya secara tidak tersirat keluarga yang menyubang akan dicatat dan
dibukukan dimana ketika si penyumbang ini, kelak akan melaksanakan pesta yang
sama si yang disumbang punya kewajiban untuk membalas dengan nilai yang sama.
“(jikalau penjelasan ini ada yang keliru mohon
dikoreksi: pembaca)”.
Bahasa
yang digunakan adalah bahasa rote khas, contoh;
” sonde itu tidak, sudah = disingkat su,
pergi jadi *pe kemana ko?* ”,
dan lebih
ekstrim bagi telinga orang Jawa ketika anak siswa panggil penulis,
“Pak ucky BAJINGAN”,
ketika
aku bermain pingpong, melatih sepakbola, dan volley, spontan aku kaget,
“what the hell this boy!!”.
Ternyata
Bajingan dalam arti Rote adalah keren,
“hahaha mungkin karena si bajingan adalah sosok yang cool, like’s a man,
gentelah jadi prespektif mereka keren”.
Kehidupan
Kehidupan
masyarakat khususnya Rote timur secara umum sama seperti kehidupan di desa
lainnya di Jawa, dimana mata pencaharian penduduk sebagaian besar adalah
petani, ada sebagian kecil nelayan dan sisanya profesi lainya. Pertanian disini
cukup beragam, dimana komonditi utamanya adalah tuak (gula air) dari pohon lontar
dan kelapa, selain itu ada juga bawang merah, sayur sawi, kangkung, tomat, dan
padi (tadah hujan).
Desa
Mukekuku adalah wilayah pantai/pesisir dimana kondisi panas kering di siang
hari tapi malam hari cukup dingin karena adanya angin laut yang bertiup
kencang. Selain aktivitas itu masyarakt Rote sangat senang apabila dikunjungi
apalagi oleh pendatang yang notabennya Pengajar Muda sebagai orang yang datang
untuk pendidikan, mereka akan sebisa mungkin menjamu tamu dengan
sebaik-baiknya. Dapat dikatakan sesuatu yang tidak ada mereka adakan hanya
untuk menjamu tamu tersebut. Kemudian apabila disuruh makan maka si tamu seyogyanya
makan, agar si empunya rumah merasa dihargai apa yang disajikan, dan lebih
terpenting adalah pasti di suruh menambah lagi porsi makanya. Info porsi orang
Rote dapat dikatakan 2x porsi makan orang Jawa khususnya penulis, yah mungkin
wajar karena aktivitas mereka cukup keras dan berat dengan bertani, memanggul
kayu bakar, naik turun pohon lontar dan kelapa yang tingginya lebih dari 8
meter.
Conclusionnya
masyarkat Rote sangat welcome to new comer’s dan akan melayani dengan kelas
terbaik, bahkan apabila si tamu Pengajar Muda khususnya mau tinggal, maka si
empunya akan dengan rela memberikan rumah atau kamar terbaiknya walau mereka
tinggal di rumah atau kamar yang jelek.
Orang-orang
Rote gemar mengunyah buah sirih dicampur dengan kapur dengan tujuan menjaga
kualitas gigi dan seabagai kebiasaan sehari-hari.
Agama dan Budaya
Agama
masyarakat Rote hampir 90% lebih adalah Kristen Protestan ada sebagian kecil
Khatolik, aliran Advent, dan lainnya. Desa penempatan Pengajar Muda 99,99%
Kristen Protestan kecuali penulis Lucky Irawan (Pengajar Muda) muslim. Namun
toleransi beragama sangat baik hal itu dibuktikan setiap ada undangan pesta
yang mengharuskan penulis datang maka paginya Pengajar Muda di minta
menyembelih hewan kecuali babi, dan penulis telah menyembelih 1 ekor sapi, 2
ekor kambing, dan 20 ekor ayam the next generation Penjagal Muda.
Selain
itu ketika Pengajar Muda akan melaksanakan ibadah sholat wajib dan jum’at
mereka akan dengan senang hati mengizinkan. Informasi di Rote timur ada satu
perkampungan muslim, letaknya di Papela kota kecamatan dan ada 3 masjid
jaraknya sekitar ± 16 km dari Desa Mukekuku. Kebanyakan muslim adalah pendatang
dari Bugis, Jawa, dan lainya.
Budaya
masyarakat Rote selain Tu’u yang sudah dijelaskan di atas, yaitu pesta pora,
baik itu pernikahan, kelahiran, bahkan kematianpun dipestakan. Hal ini yang sungguh mengkagetkan
dimana pesta pernikahan biasa berlangsung 2 hari 2 malam non-stop dengan tarian
Ja’i (khas Rote) menggunakan ti’ilangga (topi Rote terbuat dari daun lontar
seperti topi koboi dengan tanduk menjulang keatas didepan) dan selendang rote
mereka menari dengan musik Ja’i kalo di Jawa mungkin Gending tapi dengan ritme
Bit yang tinggi. Dan kebiasaan lainya adalah minum Sofi (minum keras
fragmentasi tuak) rasanya begitu keras dimana kadar alkholnya mungkin lebih
dari 40%. Orang Rote gemar minum sofi ramai-ramai,
“mungkin sa sloki muter, angkat sekali lagi
gelasmu kawan”.
Alat
musik tradisional khas Rote dan biasa menjadi cinderamata SASANDO, seperti
kecapi terbuat dari lontar untuk cassingnya.
Dana
pesta yang begitu besar membuat Bupati Rote sekarang bapak Leonard Haning
mencetuskan program Revitalisasi budaya, dimana mengalihkan Tu’u untuk
pendidikan, maksudnya budaya Tu’u untuk pesta tetap ada, namun nilai
sumbangannya dikurangi, misal biasanya memotong 20 ekor kambing atau babi di
kurang jadi 10 ekor saja. Dan selain itu mengintruksikan warga untuk membudayakan
Tu’u untuk keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka. Sejauh ini sekitar 3
tahun lebih berjalan cukup signifikan, karena masyarakat Rote cenderung
mengikuti perintah pemimpin.
Pendidikan
Actually
this topic apabila dibicarakan sangat panjang dimana banyak sekali
temuan-temuan selama Pengajar Muda berada disini yang membuat suprise, tapi
akan ditulis di kesempatan lainya saja karena butuh topic tersendiri. Intinya
deskripsi umum, di kecamatan Rote timur terdapat 21 sekolah dasar, 4 SMP, dan 1
SMA.
Mungkin
saat ini dari segi kuantitas cukup representatif walau belum ideal, untuk level
elementary school mungkin mencukupi, tapi masuk ke junior high school
permasalahan timbul karena lokasi geografis antar kampung yang berjauhan
diperparah dengan tidak adanya angkutan umum. Banyak anak-anak sekolah yang
harus berjalan lebih dari 10 km untuk ke sekolah. Level senior high school
hanya ada 1 dan terletak di kota kecamatan biasa dibayangkan desa yang jauh
dari lokasi itu tempat PM saja 16 km tidak ada angkutan umum, hanya ada motor
dan tidak semua penduduk punya motor,
“bensin rata-rata dijual Rp. 7.000 – 8.000,-“.
SD
GMIT Oeulu tempat dimana PM ditugaskan termasuk sekolah swasta, namun sekarang
manajerial dibawah Cabang Dinas Rote Timur. Termasuk SD terpencil, tertinggal,
dan terluar, namun dari segi fasilitas first class dapat dikatakan begitu,
karena cukup banyak mendapatkan bantuan fisik. Memiliki 3 gedung dengan jumlah
ruang 6 kelas, 1 perpustakaan baru, 3 toilet, dan 1 kantor guru. Memiliki
banyak sekali buku-buku bagus-bagus paket pelajaran, variasi ensiklopedia, buku
agama, 6 buah gitar baru, 2 buah meja tennis baru dan perlengkapannya, tool kit
IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Tata surya, 2 buah
paket seperangkat tool kit sport, bola volly, sepak, badminton nett, 3 buah
komputer desktop, 2 buah laptop think pad L430, 3 buah timbangan berat badan,
dan masih banyak lainya. Namun permasalahannya adalah aset tersebut belum
terinventarisasi dan tidak digunakan sama sekali. Jumlah guru kelas 5 + 1
Pengajar Muda, Kepala Sekolah 1, Tata Usaha 1 orang merangkap guru agama, dan
tidak ada guru mata pelajaran lainnya.
Pemetaan
awal adalah kurangnya motivasi guru dan stakeholder dalam memajukan pendidikan
di wilayahnya. Untuk guru dibuktikan dengan kehadiran yang memprihatinkan
rata-rata jam 8.00 baru datang, dan jam 11.00 pulang kadang tidak masuk. Walau
seharusnya Kegiatan Belajar Mengajar dimulai jam 7.00-12.10 WITA.
Kebinggungan
guru dalam memberikan materi mungkin mereka tidak membaca silabus dan SK-KD
hingga mereka kadang tidak tahu apa yang harus diajar. Pendidikan yang keras
dimana kekerasan verbal adalah hal yang wajar sebagai pendidikan berkarakter
Rote,
“maksudnya kata-kata kebun bintang hal yang
lumrah”.
Metode
pengajaran yang monoton dan konvensional tanpa RPP dsb. Pengawasan stakeholder
Cab. Dinas yang tidak rutin dan maksimal. Pointnya adalah kebijakan secara
fisik dan fasilitas baik untuk wilayah terpencil seperti ini, namun
pemberdayaan stakeholder sangat minim, sehingga kurangnya upgrade pengetahuan
dan wawasan baru, melek komputerpun hanya sebatas word dan excel sudah
alhamdulilah sekali.
Kesehatan
Ditinjau
dari kesehatan masyarakat secara umum banyak terkena penyakit kulit, hal ini
wajar karena kondisi lingkungan yang berdebu dan kering, namun diperparah
kurangnya kesadaran masyarakat khususnya anak-anak untuk mencuci kaki, tangan,
bahkan mandipun tidak 2 kali sehari. Sanitasi yang jelek dimana membuang sampah
sembarangan, membuang limbah rumah tangga selain MCK sembarangan. Walau untuk
MCK sudah banyak yang memiliki septank.
Selain
itu endemi malaria juga menghantui walau jarang tapi potensi penyakit ini cukup
besar melanda masyarakat. Sebenarnya program Pamsimas, PNPM dan lainya cukup
deras mengalir di wilayah sini namun sebagian besar adalah pembanguna fisik,
dan lagi-lagi masalah klasik yang sama dengan dunia pendidikan.
Secarik
tinta penutup segudang masalah akan terselesaikan apabila dihadapi dan hal itu
butuh proses, dan proses itu butuh waktu. Perubahan entitas prilaku mungkin
sangat sulit terjadi karena harus mengubah kebiasaan yang sudah tertanam. Namun
kata mungkin berarti masih ada harapan untuk bisa berubah, dari pada menunggu
badai reda lebih baik menikmati hujan badai ini dengan tarian inspiratif. Sehitam
apapun masalalu, masa depan kita, Rote Ndao dan Indonesia masih suci.
Lucky
Irawan
Pengajar
Muda angkatan IV
Yayasan
Gerakan Indonesia Mengajar
SD
GMIT Oeulu, Rote Timur, Rote Ndao, NTT
Dipublikasikan, di
Kupang, Rabu, 22 Agustus 2012