Bung Karno mengajar, Bung
Hatta mengajar, Bung Sjahrir mengajar, Ki Hajar Dewantara mengajar, Panglima
Besar Jenderal Sudirman mengajar, Kartini mengajar, Sanusi Pane mengajar,
Jenderal A.H. Nasution mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin Republik ini
pernah mengajar, mereka member inspirasi, mereka menjadi inspirasi, mengajar
adalah memberi inspirasi. Menginspirasi adalah tugas utama seorang pemimpin.
(Indonesia Mengajar).
Pesan diatas merupakan ajakan dari
Indonesia Mengajar yang di motori Anies Baswedan (Rektor Universitas
Paramadina) kepada para Sarjana muda berprestasi lulusan terbaik Perguruan
Tinggi dalam atau luar negeri untuk bergabung menjadi pengajar muda di wilayah
pelosok Indonesia. Para Sarjana muda ditantang untuk setahun mengabdi berupa
mengajar anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan berinteraksi dengan masyarakat di
wilayah terluar, terdepan dan tertinggal di seluruh Indonesia untuk menularkan
optimisme, menebar inspirasi dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar
rumput. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli
pada realitas kehidupan bangsanya.
Lebih
dari enam dekade (66 tahun) Republik Indonesia (RI) merdeka dari belenggu
Kolonialisme (Penjajahan), dan selama itulah Indonesia terus membangun
infrastruktur Negara di segala lini dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terus
tumbuh hingga tahun 2011, tercatat 6.5%. Namun fakta dilapangan dari sensus
2010, mengatakan lebih dari 1 dari 10 warga Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan adalah buta huruf,
dan yang paling miris adalah lebih dari 1 dari 5 warga di Papua adalah buta huruf. Di Indonesia, negara yang penuh para ahli
pendidikan, 7,09% adalah buta huruf. Belum lagi ditambah dengan jumlah sekolah rusak mencapai 11%
dari 900 ribu atau sekitar 100 ribu. Serta tidak meratanya penempatan jumlah
guru yang hanya terkonsentrasi di wilayah kota, dan segudang masalah pendidikan
lainnya.
Sarjana muda sebagai kaum
intelektual dan terdidik serta memiliki nasib lebih baik dari pada saudara kita
lainnya yang tinggal di daerah pelosok negeri, mungkin untuk Sekolah Dasar pun terasa
sulit, karena minimnya akses dan fasilitas yang kurang memadai di wilayahnya. Bagaimana
kesenjangan pendidikan di Indonesia begitu jelas terlihat dan nyata. Negara besar
dengan luas wilayahnya, namun pemerataan pendidikan belum semua masyarakat
menikmati secara layak. Sangat kontras perbedaan pendidikan di Jawa dan di luar
Jawa. Sarjana muda sebagai warga negara yang lahir dan besar di Indonesia telah
menikmati segala fasilitas kehidupan dan nasib lebih baik, akan terasa malu
pada negara tanah air pertiwi, apabila belum pernah memberikan sesuatu yang
berarti untuk Indonesia.
Era
saat ini menjadi seorang pangajar muda bukan lagi sebuah profesi yang dipandang
sebelah mata, tetapi profesi prestisius dan membanggakan serta menjadi trend dan gaya hidup generasi muda.
Perubahan paradigma orang bahwa pengajar muda bukan lagi profesi kelas dua,
tetapi sebuah tuntutan karier untuk melangkah lebih besar dari sebuah profesi
masa depan. Pengajar muda yang berani terima tantangan dan berjiwa petualang
siap menjadi martil bangsa di garda terdepan, adalah kader-kader militan
pewaris tongkat kekuasaan bangsa di masa akan datang. Calon pemimpin yang punya
integritas dan loyalitas kepada bangsa dengan memenuhi panggilan ibu pertiwi
untuk bergerak memberantas buta huruf serta menginspirasi anak-anak Indonesia
yang tinggal di wilayah pelosok negeri. Pengajar muda datang untuk menjadi
sosok inspiratif dan wujud nyata dari impian anak-anak “si bolang” untuk berani
bermimpi dan yakin bisa mewujudkan.
Menjadi
manusia adalah takdir, menjadi Sarjana adalah pilihan, menggerakan perubahan
adalah keharusan bagi seorang yang telah menyandang gelar Sarjana. Dengan
mengawali langkah besar untuk menjadi manusia yang sukses, adalah dengan
melangkahkan kaki menuju ruang kelas untuk memberi inspirasi dan menginspirasi
putra-putri bangsa ini. Agar mereka berani bermimpi bahwa merekapun yang
tinggal di pelosok negeri bisa menjadi seorang Sarjana.
Menjadi pengajar muda di
daerah terpencil bukanlah pilihan hidup suram tapi awal dari kehidupan terang
dan cerah menatap masa depan. Disitulah para calon pemimpin bangsa digodok di
kawah candradimuka ditempa sense of sociality,
leadership, public speaking dan soft
skill yang paham dan peka terhadap kerasnya hidup rakyat kecil. Kelak,
Indonesia akan dipenuhi pemimpin baru yang memiliki kompetensi kelas dunia
dengan pemahaman akar rumput.
Para pemimpin itu lahir dari anak-anak muda
terbaik pada generasinya yang diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, bekerja,
dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di segala penjuru, termasuk
di daerah terpencil. Akan sangat indah dan tenang apabila seorang sarjana
selama hidupnya pernah minimal sekali mengabdi untuk bangsa ini.
Setahun mengajar seumur hidup
menginspirasi, pengajar muda adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai
penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda, ikut membantu
mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan.
Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan.
Ini adalah kesempatan sekaligus
kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh.
Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi
inspirasi. Pilih
jalanmu jadilah pemimpin, awali langkah besarmu dengan belajar memimpin dan
menginspirasi kelas kecilmu.
Mei 2012
Dipublikasikan di Majalah ProTech, Kolom Pro Edukasi LPMT Fenomena UNY
Edisi V Th IX / 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar