Selasa, 01 Januari 2013

Bangga Menjadi Pengajar Muda

Bung Karno mengajar, Bung Hatta mengajar, Bung Sjahrir mengajar, Ki Hajar Dewantara mengajar, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengajar, Kartini mengajar, Sanusi Pane mengajar, Jenderal A.H. Nasution mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin Republik ini pernah mengajar, mereka member inspirasi, mereka menjadi inspirasi, mengajar adalah memberi inspirasi. Menginspirasi adalah tugas utama seorang pemimpin. (Indonesia Mengajar).

Pesan diatas merupakan ajakan dari Indonesia Mengajar yang di motori Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) kepada para Sarjana muda berprestasi lulusan terbaik Perguruan Tinggi dalam atau luar negeri untuk bergabung menjadi pengajar muda di wilayah pelosok Indonesia. Para Sarjana muda ditantang untuk setahun mengabdi berupa mengajar anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan berinteraksi dengan masyarakat di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal di seluruh Indonesia untuk menularkan optimisme, menebar inspirasi dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan bangsanya.

Lebih dari enam dekade (66 tahun) Republik Indonesia (RI) merdeka dari belenggu Kolonialisme (Penjajahan), dan selama itulah Indonesia terus membangun infrastruktur Negara di segala lini dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh hingga tahun 2011, tercatat 6.5%. Namun fakta dilapangan dari sensus 2010, mengatakan lebih dari 1 dari 10 warga Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan adalah buta huruf, dan yang paling miris adalah lebih dari 1 dari 5 warga di Papua adalah buta huruf. Di Indonesia, negara yang penuh para ahli pendidikan, 7,09% adalah buta huruf. Belum lagi ditambah dengan jumlah sekolah rusak mencapai 11% dari 900 ribu atau sekitar 100 ribu. Serta tidak meratanya penempatan jumlah guru yang hanya terkonsentrasi di wilayah kota, dan segudang masalah pendidikan lainnya.

Sarjana muda sebagai kaum intelektual dan terdidik serta memiliki nasib lebih baik dari pada saudara kita lainnya yang tinggal di daerah pelosok negeri, mungkin untuk Sekolah Dasar pun terasa sulit, karena minimnya akses dan fasilitas yang kurang memadai di wilayahnya. Bagaimana kesenjangan pendidikan di Indonesia begitu jelas terlihat dan nyata. Negara besar dengan luas wilayahnya, namun pemerataan pendidikan belum semua masyarakat menikmati secara layak. Sangat kontras perbedaan pendidikan di Jawa dan di luar Jawa. Sarjana muda sebagai warga negara yang lahir dan besar di Indonesia telah menikmati segala fasilitas kehidupan dan nasib lebih baik, akan terasa malu pada negara tanah air pertiwi, apabila belum pernah memberikan sesuatu yang berarti untuk Indonesia.

Era saat ini menjadi seorang pangajar muda bukan lagi sebuah profesi yang dipandang sebelah mata, tetapi profesi prestisius dan membanggakan serta menjadi trend dan gaya hidup generasi muda. Perubahan paradigma orang bahwa pengajar muda bukan lagi profesi kelas dua, tetapi sebuah tuntutan karier untuk melangkah lebih besar dari sebuah profesi masa depan. Pengajar muda yang berani terima tantangan dan berjiwa petualang siap menjadi martil bangsa di garda terdepan, adalah kader-kader militan pewaris tongkat kekuasaan bangsa di masa akan datang. Calon pemimpin yang punya integritas dan loyalitas kepada bangsa dengan memenuhi panggilan ibu pertiwi untuk bergerak memberantas buta huruf serta menginspirasi anak-anak Indonesia yang tinggal di wilayah pelosok negeri. Pengajar muda datang untuk menjadi sosok inspiratif dan wujud nyata dari impian anak-anak “si bolang” untuk berani bermimpi dan yakin bisa mewujudkan.

Menjadi manusia adalah takdir, menjadi Sarjana adalah pilihan, menggerakan perubahan adalah keharusan bagi seorang yang telah menyandang gelar Sarjana. Dengan mengawali langkah besar untuk menjadi manusia yang sukses, adalah dengan melangkahkan kaki menuju ruang kelas untuk memberi inspirasi dan menginspirasi putra-putri bangsa ini. Agar mereka berani bermimpi bahwa merekapun yang tinggal di pelosok negeri bisa menjadi seorang Sarjana. 

Menjadi pengajar muda di daerah terpencil bukanlah pilihan hidup suram tapi awal dari kehidupan terang dan cerah menatap masa depan. Disitulah para calon pemimpin bangsa digodok di kawah candradimuka ditempa sense of sociality, leadership, public speaking dan soft skill yang paham dan peka terhadap kerasnya hidup rakyat kecil. Kelak, Indonesia akan dipenuhi pemimpin baru yang memiliki kompetensi kelas dunia dengan pemahaman akar rumput. 

Para pemimpin itu lahir dari anak-anak muda terbaik pada generasinya yang diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, bekerja, dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di segala penjuru, termasuk di daerah terpencil. Akan sangat indah dan tenang apabila seorang sarjana selama hidupnya pernah minimal sekali mengabdi untuk bangsa ini.

Setahun mengajar seumur hidup menginspirasi, pengajar muda adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda, ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. 

Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi. Pilih jalanmu jadilah pemimpin, awali langkah besarmu dengan belajar memimpin dan menginspirasi kelas kecilmu.

Mei 2012
Dipublikasikan di Majalah ProTech, Kolom Pro Edukasi LPMT Fenomena UNY 
Edisi V Th IX / 2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar