Puji Tuhan, apresiasi yang diberikan rekan-rekan di facebook atas hari
lahir, saya ucapkan terima kasih. Bagi saya pribadi ini adalah bentuk pengakuan
kedaulatan hidup dan pengakuan atas keberadaan saya beserta keabstrakan yang
dimiliki. Bukan berarti gila akan pengakuan, namun pengakuan akan hidup itu
penting. Bahwasannya kita menjelaskan hidup dan ada, bukan hidup tapi tidak
ada.
Pengakuan dalam konteks yang lebih tinggi adalah kedaulatan negara,
analogi kontenporer adalah perjuangan bangsa Palestina untuk memperjuangkan
haknya sebagai sebuah negara yang berkedaulatan terus diperjuangkan. Saat ini
Palestina memperjuangkan kenaikan status dari negara pengamat menjadi anggota
Perserikatan Bangsa Bangsa. Hal itu
penting agar eksistensi bangsa Palestina ada dan melegetimasikan negara dalam
perjuangan pembebasan rakyat palestine. Itulah pentingnya sebuah pengakuan, di sini
kita Indonesia yang berdasarkan UUD’45 sepakat untuk “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”,
save a palestine adalah jawabannya.
Pesan dan wall rekan semua menjadikan suntikan semangat akan pilihan
melanjutkan hidup idealis yang adalah jalan pisau. Bukan berarti tidak
realistis, namun jalan yang mungkin sebagian orang menganggap hidup ideal
adalah aneh dan orang yang menjalankan itu adalah manusia anomali. Saya masih
memiliki tanggung jawab yang harus dilunasi, tanggung jawab moral sebagai warga
negara untuk ikut andil walau secuil, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Diberikan
kesempatan untuk melihat dan merasakan langsung kondisi kekinian Republik ini
di pelosok negeri dari berbagai aspek kehidupan adalah sebuah kehormatan. Seperti
seorang Polisi yang diangkat menjadi penyidik KPK, memilih jalan samurai nan
tajam, keras bagaikan baja, terjal dan berbatu menuju puncak Merapi adalah suatu
kehormatan dan kebanggaan.
Saya di sini tanpa kabar dan tenang
bukan berarti tanpa tantangan, namun jauh lebih besar dari apa yang
dipikirkan sebelumnya. Secara nyata melihat dan merasakan kenyataan akan
kondisi Republik ini di ujung pelosok nan terluar. Bahwasannya roadmap Master
Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) menjadi negara maju tahun
2045 tepat 100 tahun kemerdekaan RI, apakah akan terjadi?. Mungkin dilihat dari
radikalisme kemajuan Jakarta sebagai barometer, tahun 2045 tidak ada alasan
Indonesia menjadi negara berkembang saja. Namun kaca matanya adalah dari Sabang
sampai Merauke, dari Maringas (kepulauan Taulad) sampai Pulau Rote, mungkin
ceritanya akan lain. Tapi jangan lupa Bondan Prakoso bersyair dalam lirik,
“hidup berawal dari mimpi” harapan akan selalu ada walau terlihat utopis.
Ini bukanlah keluhan, namun saya sampaikan kenyataan kondisi yang
sebenarnya. Menurut keyakinan pribadi, “katakanlah yang sejujurnya walau itu
pahit, jujurlah walau itu mengancam keselamatan diri”, karena kenyataan memang
pahit. Bantuan materi berupa fisik atau uang mungkin bisa menjawab salah satu
pertanyaan dari sebuah persoalan, namun bukan berarti itu menyelesaikan
persoalan. Satu persoalan hidup adalah multi dimensional, meliputi; “IPOLEKSOSBUDHANKAM”
dan mungkin terkait pendidikan serta karakter manusia. Saya tidak mengkritisi
Pemerintah Republik ini, saya katakan dengan lantang Pemerintah Republik ini
telah bekerja keras melaksanakan pembangunan, saya akui itu. Mungkin baru
pertama kalinya dalam hidup, saya berfirasat baik terhadap pemerintah.
Di sini tempaan diri seperti di-kungkum
di kawah Candradimuka untuk berdamai dengan diri sendiri, luar biasa tantangan
yang dihadapi, berperan sebagai fasilitator dari katalis kemajuan berpikir, menjadikan
public attention lokal, “think global local action”. Saya mulai sadar bahwa
menjadi pemimpin itu tidaklah mudah walaupun tugasnya hanya mengambil
keputusan. Namun jangan lupa bahwa tiap keputusan mengandung sebuah resiko,
kita tidak mungkin menghilangkan resiko yang bisa dilakukan hanyalah
meminimalisir resiko yang ada. Dan tugas itu memanglah sulit seperti tokoh Kapten
Jhon Miller dalam film Saving Private Ryan “konflik batin antara tugas dan
naluri”.
Saya percaya bahwa Bangsa ini, Republik ini memiliki potensi memimpin
dunia, seperti retorika yang disampaikan David Cameron, waktu berkunjung ke Jakarta,
“Indonesia mampu memimpin dunia”. Kalau sedikit kita membuka buku-buku
ensiklopedia bantuan pemerintah tahun 2007, waktu zaman Menteri Pendidikan Bapak Bambang Sudibyo,
yang puji Tuhan sampai juga di SD GMIT Oeulu, Rote Ndao. Alasannya kita punya
sejarah peradaban yang tidak kalah dengan Mesopotamia peradaban sungai Eufrat
dan Tigris yang mempersembahkan Codex Hammurabi atau taman gantung Babilonianya
oleh si Nebukadnazer, Mesir dengan Firaun, Spinx, dan Piramidanya, Bangsa Inca
dengan peninggalan Machu picchunya, Roman empire dengan Colesseumnya, Yunani
melahirkan Aristoteles peletak dasar sistem kepemerintahan Monarki dan
Demokrasi. Cina dengan Dinasti Kerajaannya menciptakan Great wall of china atau
Forbidden citynya, dll. Kita?, Patih Gadjah Mada dengan palapa yang menjadikan
nusantara, atau Samaratungga dari Wangsa Syailendera dengan Candi Borubudurnya
atau Balaputeradewa menjadikan Palembang pusat agama Budha. Dan kita pernah
memiliki pemimpin kharismatik dunia Ir. Soekarno yang menghajar dunia dengan
gerakan non-bloknya. Era saat ini banyak tenaga ahli IPTEK kita dipekerjakan di
luar negeri, bahkan banyak mutiara-mutiara terpendam pelosok negeri ini yang
mempunyai masa depan yang luar biasa dengan potensi menggebrak dunia.
Tidak ada yang salah dengan bangsa ini, Founding Father kita berpesan,
“Perjuangan kalian setelah aku akan lebih berat, dari pada perjuangan ku (Ir.
Soekarno), perjuanganku adalah mengusir penjajah musuh yang nyata. Perjuangan
kalian (kita saat ini) adalah melawan bangsa sendiri”. Melawan ketidakjujuran, ketidakpedulian,
ketidaktahuan, kemalasan, kemunafikan, kesekeptisan, dll. yang memang musuh abstrak
dalam kehidupan. Kita sadar salah satu janji kemerdekaan adalah mencerdaskan
kehidupan bangsa, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memikirkan Bangsa dan Republik
ini. Bukan berarti saya mengajak rekan-rekan untuk bergabung dalam wadah yang
sama, namun marilah kita mulai mencintai tanah pertiwi ini, marilah kita bangga
menjadi bangsa Indonesia, marilah kita jaga keutuhan NKRI harga mati.
Berjuanglah di ladang bidang rekan masing-masing, jangan pernah menggadaikan
atau menjual identitas, tanah pertiwi, dan merah putih. Semangat Jenderal Naga
Bonar !!
26 tahun sudah.....
Air mata ini sanggup katakan semua, dari pada pesan yang disampaikan
semua kata. Tuhan dalam kehidupan ku yang lalu, aku pernah lari dari-Mu, Tuhan
disisa usiaku ini tolong jangan biarkan aku mengabaikan Mu lagi....
Salam progresif revolusioner
Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar