Rabu, 02 November 2011

PROGRESIF REVOLUSIONER THE REAL ANTI KEMAPANAN


Dunia tidaklah kejam dan dunia tidalah bersahabat pula, dunia hanya angkuh dan masa bodoh itu saja. Tak bisa dipungkiri perjalanan hidup tiap anak manusia penuh dengan misteri yang sulit kita ungkap, diawal kita merencanakan atau singkat cerita “unpredictable”.

Ada sebuah ungkapan yang mungkin layak diangkat pada tulisan ini, yaitu; "jangan pernah diam ditikam keadaan, hanya ada satu kata yang pantas 'lawan, lawan dan lawan' ". Kita lebih baik hidup diasingkan dari pada mati dalam kemunafikan, that’s right bro !!

Ungkapan atau mungkin sebuah kalimat tak beraturan di atas mencerminkan bahwa, jangan pernah merasa tenang dan enjoy pada suatu tempat atau suatu keadaan. Karena hal itu dapat merusak saraf-saraf otak kita yang dapat mengakibatkan terjangkitnya sindrom malas untuk keluar dari keadaan yang membuat kita menjadi bodoh dan sempit wawasan alias kuper kali yah.  ckckckckckck

Intinya atau pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk tidak pernah merasa puas terhadap suatu keadaan. Pasti dan pasti kalau diprosentasikan rank 0% s/d 100%. 70% pada diri manusia akan mengeluh dalam bentuk apapun, yang pada intinya menceritakan apa yang dia alami dan rasakan dalam menjalani hidup dengan embel-embel keluh, walaupun keadaan yang dialami bahagia sekalipun.

Hanya ada sebuah solusi yang mungkin tidaklah baik tapi tidaklah pula buruk, dipertengahan antara limit baik dan  buruk tepatnya abu-abulah. Bahwa pendekatan hidup progresif revolusioner anti kemapanan jadikanlah sebuah solusi, ketika kita pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui perubahan hidup pasti terjadi

Tapi mungkin akan tidak relevan dengan sebuah paragraf dibawah ini:

"Pada suatu ketika dalam perjalanan hidup anak manusia akan tiba pada suatu titik dimana kita dihadapkan pada 2 mata pisau yang tajam yang siap menikam kita. 2 pilihan hidup yang runcing dengan bengisnya menuntut kita untuk memilih jalan hidup. 'Gadaikan idealismemu maka kau akan taklukan duania, atau lanjutkan idealismemu anti kemapananlah resikonya'. Itulah sebuah pilihan yang harus kita pilih ketika kita merasakan betapa kerasnya bertahan hidup."


Ditulis di Perawang Mill, Riau, Sumatra

Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar