Tak terasa, delapan tahun sudah aku menginjakan kaki di bumi Mataram ini, delapan tahun sebuah masa seorang anak kelas II SD.
Umur ku sekarang beranjak 24 tahun, usia yang seharusnya sudah matang menjadi seorang pria dewasa.
Aku sadar usia ku saat ini bukanlah usia yang muda lagi, namun terasa berat untuk aku menghadapi kenyataan hidup ini yang terus berputar dan melaju.
Saat ini aku telah memperoleh gelar pendidikan S-1 aku seorang Sarjana Pendidikan Teknik (S.Pd.T), suatu gelar yang prestisius bagi orang tua ku yang rela melepasku dari bumi kelahiranku Bumiayu delapan tahun silam. Kenyataan saat ini aku merasakan suatu beban begitu hebatnya oleh gelar yang aku raih tersebut. Aku merasa seperti anak TK yang polos dan lugu, aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup seperti diam ditikam keadaan. Suatu masa transisi yang cenderung membuatku panik untuk bagaimana aku harus melawan keadaan ini, suatu keadaan yang jauh dari kemapanan seorang laki-laki dewasa. Sedih, pahit dan mungkin minder akan kehidupanku ini, kadang aku merasa dilecehkan dengan gelar yang aku raih itu (pelecehan intelektual). Aku bisa mendeskripsikan dan mengerti bagaimana pergolakan konflik batin yang begitu hebatnya dalam perasaanku ini.
Aku tahu dan sadar aku tidak mungkin selamanya dan terus menerus berada dalam kondisi ini. Aku harus melawan dan berusaha mengubah keadaan dan nasibku ini, aku tidak boleh lagi berdiri, ditikam, diam dan menonton kondisi ku ini. Aku harus mencari cahaya terang sebagi jalan menuju kemapanan hidup. Aku tidak peduli jalan cahaya terang itu curam, berliku atau tajam sekalipun, aku akan terus berusaha melewati semuanya. Aku tidak peduli orang berkata aku seorang ambisius yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya aku bisa mengubah nasibku saat ini menjadi baik dan lebih baik seiring berjalannya waktu...
Jogjakarta, 16 maret 2010
(Tepat Hari Raya Nyepi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar